Menjadi berbeda tentu saja memiliki resiko. Nama Calvin Jeremy mungkin tak lagi asing di telinga kita sejak dirilisnya single “Berdua” pada tahun 2012. Hampir delapan tahun sudah bergelut di dunia musik, ternyata perjalanan karir Calvin Jeremy tak selalu berjalan mulus. Bahkan, kondisi industri musik saat ini sempat mengacaukan pikiran Calvin. Sebagai seorang musisi, banyak hal yang dipertaruhkan untuk tetap bertahan, salah satunya investasi. Memilih untuk bertahan di jalur independen juga berarti berani mengambil resiko, seperti memiliki penikmat karya yang lebih sedikit dari musisi lainnya atau kehilangan tempat sebagai “rumah” bagi skema musik Calvin.

 

Sang penyanyi juga mengamati bahwa di era digital seperti sekarang, segala sesuatu harus dilakukan dengan cepat dan di waktu yang tepat. Bertarung dengan berbagai macam sorotan publik tentu tidak mudah, Calvin mengalami kesulitan untuk menyelami perkembangan musik di mata para millennial. Harus beradaptasi namun di sisi lain juga menonjolkan personal branding-nya sendiri.

Foto: Sabilla Salsabilla

Ditengah banyaknya rintangan yang dihadapi Calvin di dunia musik, hobinya di bidang fotografi juga mempengaruhi proses pembuatan Frame Stories di Youtube. Keterkaitan antara musik dan fotografi mencerminkan alter ego seorang Calvin Jeremy yang juga sebagai fotografer. Selain untuk menjadi sisipan dalam karir bermusik Calvin, hal ini juga dilakukan untuk menarik perhatian kawula muda agar lebih mengenal Calvin dan mendengar karya-karyanya.

 

  • “Nostalgia” merupakan album pertama yang dirilis setelah lepas dari major label. Perbedaan apakah yang Calvin rasakan dalam proses merilis album secara independen?

Lebih capek tapi lebih happy. Gue bisa belajar mengembangkan diri, dimana dalam kehidupan ini gak cuma cari keuntungan tapi kita juga mensyukuri apa yang harus berjalan. Jadi bisa lebih dewasa juga.

 

  • Salah satu single dari album baru Calvin adalah “Alright” yang dirilis di tiga negara, yaitu Indonesia, Belanda, dan Korea. Apakah Calvin pernah berinteraksi langsung dengan pendengar di negara selain Indonesia, khususnya pendengar dari Belanda dan Korea?

So far belum ya, karena ini juga project pertama kita. Tapi, melalui project itu jadi banyak kesempatan untuk merilis lagu di negara lain, atau bisa juga berkolaborasi dengan misal artis dari Amerika atau Korea. Project terdekat ini ada duet sama penyanyi dari Filipina. Baru mungkin nantinya kita akan ada interaksi dengan pendengar dan show di sana.

 

  • Belakangan ini, Calvin banyak berhubungan dengan Korea, seperti tampil di Korean Culture Day dan pembuatan dua musik video di sana. Apakah Calvin memiliki ketertarikan dengan Korea baik dari segi budaya atau spesifiknya musik?

Selain membuat dua video clip, pada saat di Korea kita juga buat behind the scenes-nya dan beberapa video cover lagu. Jadi, sebenernya memanfaatkan momentum yang ada aja. Ditambah juga emang ada keinginan untuk visit ke Korea.

 

Waktu itu, kita approach Korea Tourism Organization. Tujuannya adalah kita pengen bikin suatu video clip yang indah, yang ada unsur dramanya dan juga ada keindahan Korea-nya. Akhirnya mereka setuju untuk men-support Calvin Jeremy dalam pembuatan video clip yang tepatnya berada di Gangwon Province. Bertepatan juga pada saat itu Gangwon Province menjadi tempat Olimpiade Korea 2017 kemarin, sekalian mempromosikan juga.

 

Berkaca dari tahun 2014 kemarin ketika di Belanda, kenapa kita cuma bikin satu video clip? Kenapa gak dua aja sekalian. Bertepatan juga sama partner duet aku, Wouter Hamel, yang berada di Korea untuk show di Seoul Jazz Festival. Akhirnya, kita bikin video clip untuk lagu ‘Alright’ juga di Korea. Kalau ‘Nostalgia’ di Gangwon Province dengan scene di Jumunjin Beach yang konon menjadi lokasi shooting drama Korea ‘Goblin’, untuk lagu ‘Alright’ bertempat di Seoul.

Foto: Sabilla Salsabilla

  • Berhubung Calvin juga menyukai fotografi, apakah ada keterlibatan langsung menyangkut pengambilan gambar dalam Music Video?

Masih belum seberani itu sih untuk terjun langsung. Jadi, lebih nyerahin ke tim manajemen sama vidiografer nya. Keterlibatan gue masih sekitar 20% saja, aku liat aja kalau pas pengambilan gambarnya udah bagus atau belum, atau angle-nya udah pas belum.

 

Tapi, aku merasa makin kesini kayaknya bisa deh dicoba. Mungkin next project untuk music video atau yang lainnya akan lebih terjun sih. Seperti pada lagu ‘Alright’, gue juga udah mulai terjun ke proses editing-nya. Gue pengen suatu video clip yang nuansanya 80’s gitu, retro tapi tetep modern bukan retro VHS gitu.

 

  • Calvin Jeremy terkenal dengan karya musik yang berbau romansa, menurut Anda perbedaan apa yang bisa dilihat dari lagu-lagu romansa zaman dulu dengan lagu romansa zaman sekarang?

Ada, yaitu dari instrumensasinya, liriknya, kata-katanya, dan melodinya. Kalau zaman sekarang liriknya cenderung repetisi gitu, sedangkan kalau zaman dulu lebih bercerita. Melodinya juga, kalau zaman sekarang yang penting bisa joget, ada drop-nya, dan juga lebih elektronik. Tapi kalau lagu-lagu zaman dulu tuh kita dengerin musik kayak sedang berada dalam suatu perjalanan.

 

Lagu-lagu zaman dulu juga dari intronya udah bisa didenger bahwa itu lagu apa dan penyanyinya siapa karena mereka punya identitasnya sendiri. Kalau zaman dulu tuh bagaimana lagu untuk menyampaikan perasaan, pesan, untuk membentuk mood kamu, dan kalau sekarang lebih gimana lagunya bisa pumping, bisa buat party, seru.

 

  • Menurut Calvin Jeremy seberapa besar peluang musik bisa menghidupi musisinya, dan medianya seperti radio?

Sebenernya antara musik, pemilik musik, dan radio itu seperti siklus rantai makanan yang emang udah berubah. Dengan perkembangan social media seperti sekarang juga, semuanya kena dampak. Bisa dibilang sekarang lebih menguntungkan untuk memproduksi musik melalui platform digital, tapi gue harus berlari lebih kencang lagi untuk tetap bertahan. Kalau dengan pertanyaan ada peluang untuk musik bisa untuk hidup atau engga, gue gak bisa jawab pasti bisa atau gak bisa.

 

Foto: Sabilla Salsabilla

 

 

  • Kendala terbesar apa yang pernah ada selama Calvin bermusik?

Keadaan industri musik saat ini sempat membuat pikiran gue kacau. Gue main musik supaya ada di scene tertentu, padahal sebenernya itu bukan sesuatu yang gue butuhin. Sempet frustrasi, rasanya musik gue nggak masuk ke scene yang seharusnya, kalau dilihat dari pengisi acara sebuah event, yang sebenarnya itu musik gue banget, namun gue gak diundang kesitu. Tapi pada akhirnya, gue main musik dari hati gue aja.

 

Menurut gue, musik itu cinta dan musik itu hidup. Disaat gue ngejalaninnya penuh dengan ambisi yang distorted, pada akhirnya gue capek sendiri dan gue bertanya-tanya dimana passion main musik gue yang dulu, dimana gue bisa bikin musik dengan chord aneh-aneh, karena gue seneng.

 

Mungkin nanti karir utama seorang Calvin Jeremy tiba-tiba menjadi seorang fotografer atau director atau juga produser, ya pekerjaan balik layar aja gitu. But one thing that I can guarantee is, gue akan tetep buat musik. Mau ada yang dengerin atau engga, dari pembelajaran tahun ini adalah gue akan tetep buat musik dari hati gue. Gue tetep akan bermusik untuk orang-orang yang masih tetap menghargai karya gue.

  • Setelah berkolaborasi dengan musisi internasional seperti Wouter Hamel dan Daiyan Trisha, apakah ada musisi lain yang belum kesampaian untuk diajak berkolaborasi?

Kalau berandai-andai sebenernya banyak ya. Dari Indonesia sendiri, gue lebih pengen sama yang senior kayak om Fariz RM. Kalau dari luar, gue pengen banget produce music sama Jamie Cullum. Terus juga siapa tau suatu saat gue bisa ketemu Charlie Puth dan bisa discuss music. Selain itu gue suka banget sama James Bay. Paul McCartney juga, gue pengen banget nonton konsernya dia, ya kalau-kalau bisa kolaborasi juga.

 

  • Adakah pesan yang ingin Calvin sampaikan, sebagai panduan bagi musisi-musisi pemula yang ingin berkarya di industry musik Indonesia?

Enjoy the journey. Suatu saat orang-orang akan bosen dengan jenis musik yang itu-itu aja, tiba-tiba ada satu yang “gila, ini menyanyikannya dari hati banget, bro”. Menjaga ketulusan hati itu juga penting sih.

 

(Ditulis oleh: Melza Kartika Devania, Nandhita Dhanesvari)