Sudah 140 tahun berlalu sejak R.A Kartini lahir di ibu pertiwi, seorang wanita yang kini tanggal lahirnya setiap tahun diperingati sebagai hari emansipasi wanita. Lahir dalam keluarga bangsawan tidak membuat Kartini—begitu satu-satu nya nama panggilan yang ia hendaki—tunduk kepada sistem dan keadaan yang ada.

 

Pingitan menjadi alasan direnggutnya kesempatan Kartini bersekolah pada umur 12 tahun, tak hanya kesempatan bersekolah, kebebasan dan hidupnya sebagai remaja pun direnggut ketika ia dilarang keluar dan dituntut untuk mempraktekkan kebiasaan bangsawan. Berbicara halus dan lirih, tidak boleh tertawa kencang-kencang, dan peraturan-peraturan ruwet lainnya merupakan standar ideal seorang wanita bangsawan yang dipasang oleh kerajaan masa itu. Di balik dinding-dinding kerajaan, Kartini menjadi sosok darah biru yang kesal di dalam istananya.

 

Mengurung Kartini dalam jeruji sosial bukanlah ide yang bagus. Justru lahir pemikiran kritis, revolusioner, dan pemikiran-pemikiran yang kelak menjadi cikal bakal feminisme. Melalui pena-nya, Kartini menuliskan kritik terhadap pemerintahan kolonialisme yang mendiskriminasi pribumi, menulis harapan dan pembelaan atas diskriminasi perempuan, menggugat budaya Jawa yang menghambat kemajuan perempuan, dan menuntut hak yang setara atas laki-laki dan perempuan, khususnya dalam bidang pendidikan.

 

Kartini merupakan sosok yang jauh lebih maju dari dunia nya, perjuangannya pun tidak kunjung usai hingga sekarang. Sudah 140 tahun, perempuan masih mengalami berbagai diskriminasi di berbagai tempat. Budaya patriarki yang masih melekat, tidak lupa pula dengan budaya catcalling dan body shaming yang orang Indonesia sangat gemari. Kesenjangan gaji antara pria dan wanita. RUU PKS, apa kabar? Semoga baik-baik saja ya. Kampanye online Indonesia Tanpa Feminisme. Pernikahan usia dini. Yuyun (korban pembunuhan dan kekerasan seksual oleh 14 pelaku), Enno Farihah (korban pembunuhan dan kekerasan seksual menggunakan cangkul), dan beribu-ribu nama korban kasus kekerasan seksual lainnya yang tampaknya tidak mempunyai akhir. Tes keperawanan pada institusi pemerintahan. And the list goes on..

 

Emansipasi wanita yang kini berkembang menjadi feminisme, ada karena struktur sosial yang tidak setimpang. Tidak hanya perempuan, feminisme ingin mendongkrak dan memperjuangkan hak-hak manusia yang dikerangkeng oleh standar yang dianggap konvensional oleh masyarakat sosial. Feminisme tidak mengenal warna kulit, agama, jenis kelamin, dan orientasi seksual seseorang, yang ia tuntut hanyalah kesamaan hak dan kesempatan untuk semua tanpa adanya diskriminasi. Manusia berhak melakukan hal yang mereka hendaki, selagi tidak melukai orang lain. Feminisme akan terus ada sampai tuntutan itu dikabulkan.

 

Gerakan dari feminisme ini didukung oleh wanita-wanita dari berbagai belahan dunia. Selain menjadi bagian dari emansipasi, wanita-wanita pun ingin terlepas dari skeptisme mengenai ketidakberdayaannya. Mereka ingin menyuarakan perlawanan atas kesulitan dan masa kelam yang pernah mereka hadapi dan bagaimana sekarang mereka ingin menjalani hidup sebagai manusia yang seutuhnya tanpa merasa untuk dijadikan objek dalam masyarakat. Salah satu cara mereka mengungkapkannya adalah melalui musik. Layaknya Kartini yang menulis surat kepada wanita-wanita di penjuru negeri mengenai cita-cita dan perjuangannya untuk mengangkat harkat wanita, di dalam lagu-lagu berikut para musisi wanita menyuratkan isi hatinya tentang bagaimana mereka ingin diperlakukan dan meluruskan image mereka ke masyarakat.

 

  1. Don’t touch my hair – Solange

 

 

Dirilis pada tahun 2016, lagu ke-9 dari album A Seat at the Table ini merupakan manifestasi Solange dalam mengekspresikan ketidaknyamanannya terhadap stereotip yang dipegang beberapa masyarakat terhadap orang berkulit gelap.

 

Mempunyai latar belakang sejarah rambut yang memiliki tekstur kasar dan keriting, orang berkulit gelap mengalami berbagai diskriminasi dari pihak luar atas rambutnya yang dianggap berbeda. Bagi kebanyakan orang berkulit gelap, rambut memiliki peran yang penting dalam sejarah dan kini merupakan bentuk warisan dan kebebasan berekspresi dari identitas mereka. Namun, hingga sekarang, tekstur unik dari rambut orang yang berkulit gelap kerap dijadikan ‘atraksi’ dan bahan ejekan bagi mereka yang tidak mengetahui makna rambut tersebut. Solange pun menggunakan simbolis rambut untuk menguraikan frustasi nya atas persepsi buruk, kurangnya pengetahuan, dan kesadaran orang-orang tentang ‘warna’ tubuhnya.

 

“Don’t Touch My Hair” juga menekankan para pendengar untuk selalu percaya diri dalam tubuh masing-masing dan untuk berpikir positif akan diri sendiri. Semua orang mempunyai ‘rambut’ nya masing-masing, dan tidak ada yang bisa mengganggu gugat hal tersebut.

Dengan sentuhan R&B kontemporer, Solange mengilhami para pendengar akan isu-isu ini dengan santai dan asik didengar.

 

  1. Memang Kenapa Bila Aku Perempuan? – Melly Goeslaw, Gita Guatawa

 

 

Pernah dijadikan soundtrack di film “Kartini” jelas membuat lagu ini sangat menggambarkan mimpi dan cita-cita yang ingin dibangun oleh seorang Kartini dan disampaikan kepada perempuan-perempuan. Berharap Kartini-Kartini modern di zaman sekarang akan terus melanjutkan perjuangannya. Lagu ini diiringi dengan piano dan ada sedikit sentuhan musik orkestranya yang bisa membuat kita terbuai dan juga membangun semangat. Selain terikat dengan apa yang terjadi pada kehidupan perempuan di era Kartini, sebenarnya lagu ini juga relevan dengan perempuan di masa kini. Tentang bagaimana melalui segala pengorbanan dan usahanya mereka ingin mencapai cita-citanya. Tapi, mereka juga terkena diskriminasi atas mimpi dan harapannya, hanya karena mereka adalah perempuan.

 

Aksara menari diatas awan

Cukup jelas menuliskan harapan

Memang kenapa bila aku perempuan

Aku tak mau jadi budak kebodohan

 

Dua musisi yang menyanyikan lagu ini, yaitu Melly Goeslaw dan Gita Gutawa pun merupakan dua musisi wanita ternama di Indonesia dengan segudang prestasi dan patut menjadi cerminan perempuan modern seperti yang Kartini gambarkan. Gita Gutawa juga merupakan salah satu penyanyi yang berprestasi dalam hal akademik dengan mendapat gelar sarjana dari University of Birmingham dan melanjutkan S2 di London. Menjadi perempuan tidak berarti harus membatasi diri dalam bereksplorasi dan meraih prestasi, bukan?

 

  1. Girls Just Wanna Have Fun – Cyndi Lauper

 

 

Lagu yang sangat populer di tahun 80an. Dibawakan oleh Cyndi Lauper, penyanyi dari Amerika yang terkenal dengan gayanya yang nyentrik dan suaranya yang tinggi. Dipadukan dengan musik upbeat, lagu ini membuat orang-orang bersemangat dan ingin menari ketika mendengarnya. Tapi, dibalik itu sebenarnya lagu ini menyimpan makna yang cukup dalam bagi para perempuan.

 

Girls just wanna have fun” itu kata-kata yang terus dinyanyikannya. Cyndi Lauper ingin mencurahkan isi hati para wanita bahwa wanita sebenarnya juga ingin bersenang-senang. Dimana mereka ingin menikmati masa mudanya yang bebas dan tanpa kekangan apapun. Selama ini wanita dituntut untuk sempurna, dalam bertingkah laku maupun menjalani kehidupan. Masyarakat cenderung menilai ketika wanita sudah dewasa, namun belum berkeluarga dan masih sibuk dengan urusannya (bekerja atau bersenang-senang) adalah sesuatu yang menyimpang. Padahal, itu merupakan hak manusia untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Ada lirik yang berbunyi “Some boys take a beautiful girl and hide her away from the rest of the world. I wanna be the one to walk in the sun…”. Lirik itu menggambarkan beberapa perempuan yang ‘terkurung’ setelah menikah, tapi Cyndi tidak mau menjadi seperti itu. Ia ingin terus merasa bebas untuk menjalani kehidupannya.

 

Terlepas dari karirnya menjadi penyanyi, ternyata Cyndi Lauper juga seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Gak heran dong, kenapa dia mau banget hak perempuan itu dijunjung juga di lagunya.

 

  1. Tomboy – Princess Nokia

 

 

“Tomboy” merupakan penekanan pernyataan Princess Nokia sebagai seorang wanita. Lagu ini merupakan bentuk hasil dari proses Princess Nokia mencintai diri nya sendiri, setalah melewati fase ketidakpercayaan diri dalam perliaku nya yang cenderung maskulin dan bentuk tubuh yang dirasa tidak memenuhi standar perempuan pada umumnya.

 

Penyampaian nilai-nilai body positivity yang melimpah sepanjang lagu membuat “Tomboy” menjadi sebuah lagu kebangsaan untuk self-empowerment. Princess Nokia mencoba untuk mengajak pendengarnya menjadi diri sendiri tanpa tidak menyesuaikan diri kedalam masyarakat, persetan dengan obsesi masyarakat terhadap standar kecantikan!

 

Selain menyuarakan gagasannya dalam lagu, Princess Nokia juga dikenal sebagai rapper yang sangat vokal mengenai isu-isu sosial. Pada tahun 2017, video Princess Nokia melempar sup ke seorang penumpang subway beredar, hal tersebut dilakukan karena sang pengunjung mengolok seorang penumpang yang berkulit gelap. Kemudian pada 2018, Princess Nokia menggelar jumpa fans dengan satu syarat: setiap penggemar harus melakukan donasi kepada musibah yang melanda Puerto Riko waktu itu.

 

Don’t sleep on this one!

 

 

  1. Into the New World – SNSD

 

Seperti judulnya, “Into the New World” adalah lagu SNSD dalam menyambut sebuah era baru dalam hidupnya. Menjadi salah satu girlgroup Korea di awal fenomena k-pop muncul bukanlah hal yang mudah, membutuhkan banyak perjuangan ketika tekanan dari berbagai pihak datang, termasuk pihak-pihak yang meremehkan kemampuan mereka untuk berhasil.

 

Don’t wait for a special miracle

There’s a rough road in front of us

With unknowable future and obstacles, I won’t change

I can’t give up.”

 

Kini, SNSD menjadi salah satu girlgroup yang paling sukses di Korea Selatan. Selain itu, lirik “Into the New World” yang positif dan memberikan semangat membuat lagu ini memiliki kekuatan yang tidak kunjung hilang, bahkan makin menguat memasuki tahun ke-13 nya dirilis. Lagu ini pun menjadi lagu nyanyian pada acara-acara unjuk rasa sebagai bentuk kekuatan. Unjuk rasa terhadap Park Geun Hye, yang pada waktu itu menjabat sebagai presiden Korea Selatan. Unjuk rasa mahasiswi Ewha Women University terhadap institusinya. Serta yang baru-baru ini, “Into the New World” dinyanyikan secara sorak-sorak bergembira sebagai selebrasi dihilangkannya larangan aborsi secara resmi di Korea Selatan.

 

Dibalik gemerlap industri musik k-pop yang mengagungkan standar kecantikan dan cenderung bertolak belakang dengan beberapa paham feminisme, sudah terdapat beberapa perkembangan untuk mendongkrak budaya tersebut seiring berkembangnya fenomena gerakan feminisme. Mulai banyaknya penyanyi wanita yang berani terbuka mendeklarasikan dirinya sebagai feminis, banyak lagu yang mendorong nilai-nilai self-love, dan munculnya banyak penyanyi yang berani menyatakan diri melawan standar masyarakat dan kecantikan korea (Hwasa dan Solar dari Mamamoo, Harisu, CLC)

 

  1. Seashore – The Regrettes

 

 

“Seashore” dinyanyikan oleh salah satu band punk rock masa kini dengan seorang frontwoman, yaitu Lydia Night. Lagu ini diciptakan untuk menyampaikan uneg-uneg terhadap orang-orang yang memperlakukan perempuan seperti makhluk yang lemah, tidak memiliki pendirian, dan menyedihkan. The Regrettes ingin menghilangkan skeptisme tersebut. Di dalam liriknya juga menceritakan bagaimana mereka mendapatkan cacian, tapi mereka membalasnya dengan “but my words are growin’ stronger, and my legs keep gettin’ longer”. Walaupun begitu, mereka tetap bisa bertahan, bahkan menjadi lebih kuat.

 

Tumbuh dengan budaya patriarki mendidik kita untuk menganggap laki-laki selalu superior dan menilai perempuan sebagai sosok yang lemah dan selalu patuh. Seperti kasus-kasus mengenai kekerasan perempuan yang marak terjadi sekarang, walaupun diperlakukan secara tidak adil tapi mereka juga dituntut untuk tetap menjadi lembut. Lagu ini ingin menyuarakan suara hati perempuan untuk melawan hal-hal yang memang merugikan mereka atau melukai harga diri mereka. Seperti yang dinyanyikan Lydia “I’ll still kick your ass even in my skirt”. Perempuan identik dengan pemakaian rok, dan hal-hal yang berbau feminin lainnya, tapi itu tidak menjadi pembatas mereka untuk melakukan perlawanan

 

Pada music video lagu ini juga ditampilkannya peran-peran perempuan yang mendobrak patriarki, seperti pada awal opening scene Lydia menjadi presiden, lalu adanya ilustrasi march perempuan-perempuan dengan papan yang bertuliskan “vote for women” menggambarkan dukungan-dukungan untuk perempuan. Lalu ada kilasan balik ke era peperangan dengan video-video montase hitam putih seorang pilot wanita dan seorang atlet lari cepat wanita.

 

Dikutip dari Entertainment Weekly, Claire Vogel, sutradara dari music video ini mengatakan:

“Saya ingin memasangkan lirik yang mengandung unsur pembangkangan dengan beberapa sketsa sejarah yang merangkul perempuan untuk mengambil kendali atas situasi yang telah menahan mereka. Saya ingin setiap adegan mengisyaratkan bagaimana orang-orang mungkin dengan bebas mengungkapkan pikiran batin mereka pada saat-saat itu (era peperangan) seandainya mereka memiliki hak istimewa.” Ia ingin music video ini diingat sebagai bentuk penggambaran dari perjuangan perempuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka, despite all of the struggles that hold them back.

 

 

  1. You Should See Me In A Crown – Billie Eilish

Pada lagu ini Billie Eilish ingin menunjukkan betapa ia bisa menjadi sesuatu yang powerful dan juga bagaimana ia bisa menaklukan orang-orang. Masih menyatu dengan konsep album terbarunya ‘When We All Fall Asleep, Where Do We Go’, yaitu bertemakan dark dan grunge-ish. Jika didengarkan dengan teliti, lagu ini dibuka dengan suara asahan pisau. Dengan suara lembut dan melodramatiknya, lagu ini membawa sensasi yang lebih mengintimidasi.

 

You say ‘come over baby, I think you’re pretty’

I’m okay, I’m not your baby

If you think I’m pretty, you should see me in a crown

 

Lirik tersebut menjelaskan bahwa ia bukan untuk dimiliki. Orang-orang bisa beranggapan bahwa ia seseorang yang cantik, tapi ia ingin menunjukan bahwa ia juga memiliki power. Walaupun sebenarnya awal inspirasi dari lagu ini merupakan kutipan dari Moriarty, sang penjahat kelas kakap di serial Sherlock: “in a world of locked rooms, the man with the key is king. And honey, you should see me in a crown.” Namun, lagu ini bisa direlevansikan dengan perempuan-perempuan masa kini dimana sebenarnya perempuan juga bisa memimpin, bahkan menguasai dunia.

 

Ditulis oleh Melza Kartika Devania & Shara Octaviani

Ilustrasi oleh Sheryn Aristi