Sebuah festival musik yang setiap tahunnya diselenggarakan oleh Komunitas Musik Fikom (KMF) Universitas Padjadajaran bertajuk Music Festifile (MFF) kembali hadir dengan mengusung konsep dari media untuk massa. Tahun ini, acara tersebut mengangkat tema “color diversity” karena pengisi acara terdiri dari bermacam genre layaknya warna-warna yang berbeda, dan tentunya menjadi hal yang baik untuk menyatukan orang-orang yang memiliki latar musik yang berbeda.

            Beberapa tahun belakangan ini, sangat banyak musisi yang lahir di internet. Platform seperti Youtube, Instagram, Souncloud, Bandcamp dan Spotify memudahkan para musisi mempublikasikan karya mereka. Meskipun mereka sudah terkenal di berbagai platform, masih jarang ada acara yang mewadahi para musisi untuk tampil secara live. Maka, MFF menjadi salah satu acara untuk mengapresiasi langsung sebuah musik dan berkumpul dengan pencinta musik lainnya.

            Awalnya, MFF membuka submission bagi para musisi yang ingin memperdengarkan karyanya kepada khalayak luas. Lalu, terdapat proses kurasi oleh para kurator untuk memilih sepuluh terbaik. Para kurator yang terlibat ialah Canggar Krisnatry (Produser), Anggung Suherman (Bottlesmoker), dan Surya Fikri Asshidiq (The Panturas). Beberapa musisi yang terpilih yakni Teruna, White Chorus, Hagai Batara, Hulica, Paperhale dan Post Human. Mereka mendapatkan kesempatan live session, video master serta audio, kolektif karya dalam bentuk kaset dan tampil di main event bersama bintang tamu di MMF.

            Main event yang diselenggarakan pada 24 Agustus 2019 di Basement 90 Kitchen & Bar diawali dengan pembukaan pembawa acara dari pihak KMF. Irama dalam kegelapan dimulai oleh sepasang romansa remaja ala White Chorus dengan balutan musiknya yang dreampop. Ia membuka penampilannya dengan menyanyikan salah satu lagu dalam mini album mereka berjudul “Happy Sad”, dilanjutkan menyanyikan lagu berjudul “Story of Teenage Love.

            Penampilan kedua ialah Hagai Batara, musisi solo asal Jakarta yang memiliki khas suara lembut dan tempo lagunya yang pelan. Ia memulai dengan menyanyikan salah satu single-nya yang berjudul “I Was Alone”. Tidak hanya itu saja, Hagai juga membawakan lagunya yang berjudul “The Bird’s Song” dan “Satu Titik” yang dibawakan feat. bersama temannya Hagai Batara. Ia adalah satu-satunya musisi yang berhasil membuat penonton merasa tenang ketika mendengar suaranya pada malam itu.

            Setelah tenang bersenandung dengan Hagai Batara, penampilan dilanjutkan oleh grup musik yang mengkonversi nuansa atmosferik dari karya-karya musisi 70-an, Paperhale. Mereka adalah duo yang satu-satunya membawakan lagu hanya berisikan nada tanpa vokal, karena itu pengunjung tampak penasaran dengan penampilan dan musiknya dari awal sampai akhir.

“Venue-nya keren sih beda aja, sama band-band tahun ini menarik” ujar Abi, salah seorang penonton yang hadir pada MFF 2019 kemarin.

Ditengah keramaian dan kehangatan malam itu, terdapat talkshow dari para kurator. Jalannya talkshow diatur oleh moderator yang sekaligus merangkap sebagai pembawa acara MFF. Para kurator membicarakan alasan mengapa memilih sepuluh musisi yang sudah dikurasi dan tentang skena musik di Bandung.

            Semakin lama, tempat semakin penuh pengunjung. Acara selanjutnya pun diisi oleh grup musik unit math rock asal Bandung, Hulica. Mereka adalah kesatuan dari tiga anak muda yaitu Dimaz Ramadhan Putra (Drum), Djodi Fauzan Rahman (Bass dan Vokalis), dan Erwin Zakaria (Gitar dan Vokal). Mereka mempunyai ciri khas dari musiknya sendiri yang terdengar cukup kompleks dan sedikit kasar, namun disaat bersamaan juga terasa ringan didengar. Terlihat dari salah satu single yang ia bawakan malam itu yang berjudul “I Heard You Like Jazz”.

            Setelah Hulica turun panggung, giliran Teruna yang tampil untuk bermain dengan lagu andalannya. Mereka merupakan duo kakak beradik yaitu Ady Teruna (Adik) dan Raka Teruna (Kakak) yang bersatu untuk memasuki dunia musik. Mereka menyanyikan salah satu single berjudul “Girl”. Tidak hanya menyanyikan lagu mereka sendiri, mereka juga meng-cover lagu Bruno Mars yaitu “That’s What I Like”.

            Setelah itu, penampilan seru dan panas pun tetap berjalan. Grup musik metal yang dibentuk di Bandung, Post Human mulai unjuk karya. Post Human beraliran metal progressive/avant-garde yang terdiri dua bassis, satu gitar, drum dan vokal. Lagu mereka dipengaruhi dari berbagai genre, sehingga dapat menawarkan rasa musik yang berbeda dan tidak monoton yang umumnya digemari oleh para pria.

            Para musisi yang terpilih oleh kurator selesai tampil pada malam itu. Acara dilanjutkan oleh para guest star yang akan menggoyangkan panggung. Mereka ialah Bleu House, Manner House, Rub of Rub dan Orkes Bagong Februari (OBF). Waktu berjalan hampir tengah malam, acara dilanjutkan dengan pembukaan guest star pertama yang merupakan grup musik pop elektronik asal Jakarta, Bleu House. Fans mereka yang sudah menunggu terlihat antusias menikmati penampilan dari idolanya. Mereka membawakan tiga single mereka yang berjudul “Where Are You? Where Are You?”, “Waste My Time” dan “Sign”.

            Guest star yakni Manner House, yang digawangi oleh Esa Prakarsa pada gitar dan Zulfikar Azhar Mahmud pada vokal dan keyboard. Manner Housemerupakan grup musik pop-art yang dipengaruhi musisi seperti Queen, Radiohead, dan John Mayer. Mereka mempunyai ciri khas albumnya yang selalu membahas soal kesehatan mental dengan premis yang berbeda-beda.

            Usai sudah penampilan dari Manner House, kini panggung terasa ingin bergoyang disembari tangan yang ikut berdendang ketika Rub of Rub musik ala pantai yang mempunyai genre Reggae/Dub memasuki panggung dan membawakan lagu-lagu mereka yang berjudul “Ruang Waktu”, “Lentur” dan “Lepas”. Diakhiri OBF yang mengusung genre “Keroncong Dangdut” menjadi penampil penutup Music Festifile 2019 berhasil membuat penonton berjoget dengan nuansa yang ceria.

            “Pemilihan venue sama line up nya keren tapi sayang acara nya ngaret banget. Terus sayang banget beres Rub of Rub tampil fans-nya langsung bubar padahal masih ada OBF.” Kritik Frey yang hadir di MFF 2019 kemarin.

            Dibalik kekurangan MFF tahun ini, terlihat pengunjung yang sangat antusias, dan massa memenuhi target panitia. Acara kali ini pun mendapatkan komentar-komentar positif mengenai musisi dan venue yang berbeda dari biasanya. Penulis berharap para musisi internet semakin dikenal para penikmat musik di seluruh Indonesia dan terus mengembangkan potensinya. Sukses terus untuk para musisi di Indonesia dan sampai bertemu di MFF tahun depan!

About The Author