Pentas seni atau pensi di tingkat sekolah baik Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan acara tahunan yang memiliki tingkat gengsi yang tinggi. Masing – masing sekolah terutama SMA saling beradu dalam membuat acara pentas seni terbaik dan termegah. Ini menjadi ajang pamer eksistensi antar sekolah di kota Bandung. Tetapi apakah pamer eksistensi ini sesuai dengan kualitas acara yang dihadirkan ? Bagaimana dengan musisi yang hadir dalam acara pentas seni tersebut ?

Sebut saja beberapa nama – nama pensi yang sudah terkenal di Bandung seperti From 2 with Love dari SMAN 2 Bandung, Five Live dari SMAN 5 Bandung, dan yang baru – baru ini hadir kembali ada Atma Asta dari SMAN 8 Bandung. Pensi yang hadir di zaman sekarang ini utamanya merupakan konser musik yang menghadirkan para musisi papan atas dengan tambahan penampilan seni dari para siswa sekolah masing – masing. Jangan lupakan juga bahwa pensi menjadi ajang promosi agar sekolah tersebut ramai pendaftar pada masa penerimaan siswa baru.

Pensi dinilai dapat menjadi panggung bagi band – band yang belum muncul ke permukaan. Disaat acara musik di kota Bandung disponsori besar – besaran oleh berbagai merk rokok, pensi muncul dengan jiwa lebih segar dan tentu saja muda. Acara musik bersponsor rokok biasanya sudah memiliki list talentnya masing – masing, sehingga akan sulit untuk band – band baru tampil di acara tersebut.

Industri musik Bandung sekarang ini malah diramaikan oleh band – band luar Bandung seperti Barasuara, Reality Club, Seringai, dan Elephant Kind. Band asal Bandungnya pun sekarang ini terbatas di band seperti Mocca dan The Sigit saja. Merekalah yang menjadi langganan dari acara – acara bersponsor utama rokok. Padahal, masih banyak musisi – musisi Bandung yang bagus dan belum terlihat.

Adhitia Sofyan di Atma Asta, 29/9. (foto: Rangga Ridzky Pradana)

Selain mengadakan gigs kecil – kecilan ataupun gigs kolektif, para musisi baru dapat mencoba menunjukan taringnya di industri musik kota Bandung melalui pentas seni ini. Terkadang pentas seni dipandang sebelah mata, “acara yang hanya berskala anak sekolahan dan tidak mengerti seni”. Padahal, pasar pentas seni di zaman sekarang ini cukup besar baik dari segi musisi maupun penontonnya.

Antusiasme dari para penikmat musik juga bukan main. Pada pensi seperti ini tidak ada batasan usia untuk hadir dalam acara tersebut. Pasalnya batasan usia seringkali menjadi kendala bagi anak muda yang ingin menikmati acara yang disponsori oleh rokok. Label “18+ harap menunjukkan SIM/KTP” wajib disematkan oleh sponsor utama dalam acara tersebut demi mengikuti aturan mengenai rokok yang berlaku di Indonesia. Oleh karena itu, pensi dapat menarik lebih banyak massa ketimbang acara bersponsor rokok.

Baik pentas seni maupun acara lain dengan berbagai sponsor, kita sebagai penikmat musik harus tetap bersyukur masih adanya acara seperti ini. Bagi musisi yang disebut indie maupun yang mainstream sekalipun pasti akan senang masih punya panggung untuk menunjukan karyanya. Semoga pentas seni sekolah tidak pernah mati, karena banyak karya musik yang berkembang dari sana. Bagaimana pun, karya anak muda yang berbakat adalah karya yang berharga dan dapat mencerahkan kancah permusikan di Indonesia ke depannya.