Jauh sebelum Bananach, khazanah musik Indonesia mengenal Dara Puspita. Terinspirasi dari kejayaan dari band beranggotakan empat perempuan yang memainkan lagu-lagu rock ‘n roll di era 1960an ini, pada tahun-tahun setelahnya muncul tidak sedikit band lain yang formasinya diisi penuh dengan personil kaum hawa yang turut menancapkan namanya di perjalanan sejarah musik Nusantara.

Sebut saja SHE (Sound and Harmony Eclectic). Band asal Bandung yang berjaya di tahun 2000 awal yang berhasil membekasi kepala pendengar musik di era itu dengan single “Slow Down Baby” mereka.

Kembali ke era 90-an, band indie dari Jakarta bernama Wondergel sempat mendudukan posisinya sebagai band punk yang tepat satu tahun lalu pada Mei 2017 baru saja merilis ulang single unggulan “Asa Dimana” bersama distributor musik Ripstore Asia.

Lebih mirip lagi dengan Bananach sendiri yaitu Boys Are Toys; sama sama berasal dari Bandung, memilih untuk bermain di genre Garage Rock; Post Punk, dan Artwork single terbaru dari Bananach yang mengingatkan kepada artwork dari Boys Are Toys bertajuk “Weah Weah of the Blah Blah”.

Musik punk sering kali menjadi dokumentasi zaman pada masanya. The Raincoats, all female band dari Inggris terbentuk karena banyaknya gelandangan yang menetap di rumah tidak berpenghuni, dan mereka sendiri adalah salah satu dari penghuni liar tersebut.

Banyaknya gelombang penghuni liar mulai terjadi di Copenhagen dan Amsterdam di era 1960an, lalu merambat ke Inggris 10 tahun kemudian. Tiga dari empat personil The Raincoats menghabiskan hampir setiap malamnya dari satu gedung ke gedung lainnya. Pada tahun 1979, mereka berhasil menciptakan debut album mereka di sebuah basement gedung tua yang mereka temukan di sudut ibukota Britania Raya.

 

Vokalis Bananach, Karina, saat tampil di showcacase perilisan album The Panturas di Gedung Spasial, Bandung. (14/4/2018) Foto: Farhan Ramadhan

Vokalis Bananach, Karina, saat tampil di showcase perilisan album The Panturas di Gedung Spasial, Bandung. (14/4/2018) Foto: Farhan Ramadhan

Sama-sama mendokumentasikan lingkungannya, “Aphrodites” lahir dari budaya konsumerisme masyarakat yang hidup di generasi ini. Grup musik yang namanya diambil dari mitologi Irlandia bernama “Banshee” — bukan dari kata banana yang kita kira awalnya — ini sudah meramu single teranyarnya sejak Karina, Moyan dan Via (personil Heals) baru saja keluar dari bangku sekolah menengah atas. Single ini adalah dokumentasi sekaligus bentuk kritik terhadap kaum yang lebih mementingkan citranya depan publik, mendahului segalanya.

Urgensi budaya konsumerisme yang semakin menjadi-jadi dewasa ini terekam di tubuh lagu “Aphrodites”. Tidak tanggung-tanggung, lagu ini menggunakan sebutan lintah (leech) teruntuk kaum yang disinggung di teriaki oleh sang vokalis. Pertanyaan retoris nan satir pun dilontarkan dalam bait reff:

“Where are the brains go?
Really darling?
Where are the brains go?
Did you put it in your Givenchy purse?”

Lalu pada oktober 2017, untuk yang pertama kalinya single ini diperdengarkan depan publik di acara kolektif Papah Cerewet Vol. 2.

Single terbaru dari Bananach ini memang memiliki keunikan sendiri; jika stigma yang berkembang di masyarakat umum bahwa perempuan feminim biasa memainkan musik dan geliat yang gemulai, tidak dengan Bananach. Musik khas dari para gadis ini seakan-akan mengajak pendengarnya untuk headbang bersama.

“(‘Aphrodites’) akan dijadiin patokan buat lagu-lagu kedepan”, ucap sang gitaris, Moyan, saat ditemui Gilanada April lalu.

Klik tautan di bawah ini untuk mendengarkan “Aphrodites”!