Setelah sukses di hari pertama, pintu festival hari kedua dibuka lebih awal menjadi pukul 15.15 WIB. Penampilan dari sederet nama artis juga dimulai lebih awal dari hari sebelumnya. Pukul 16.15, Marsh Kids membuka festival hari ke dua di panggung Demajors, dilanjutkan dengan penampilan yang membangkitkan semangat penonton meski masih sore hari dari Bandung Inikami Orchestra pukul 17.00 di panggung Kementerian Perdagangan.

IMG_1923

Foto: Rasyid Baihaqi

Pukul 18.30, giliran Ipang yang membawa para penonton larut dalam perasaan dari setiap lirik lagu yang dibawakan. “Pernah gak bikin kesalahan dan pengen diulang?”, begitulah kira-kira intro yang diucapkan Ipang sebelum lagu “Sekali Lagi”. Malam itu, Ipang juga membawakan lagu terbarunya yang berjudul “Cari Celah”.

Yamaha Special Project membuat penonton memenuhi panggung Garuda Indonesia pukulk 19.30. Malam itu, Is Payung Teduh, Kikan, Bams, Syasyi, dkk membawakan lagu-lagu dari band asal Inggris, Coldplay. Penampilan mereka malam itu membuat keinginan penggemar Coldplay untuk menyaksikan idola mereka di tanah air sedikit terbayar. Sejak lagu “Shiver” yang dibawakan Is di awal penampilan, hingga “Every Tear Drop is Waterfall” yang dinyanyikan Bams dan Syasyi di akhir penampilan, para penonton bernyanyi dengan semangat.

Tidak hanya Yamaha, ada lagi yang spesial dari penampilan band lainnya. The Brandals alias BRNDLS, menjadikan penampilan mereka di Java Soundsfair ini sebagai penampilan terakhir mereka sebelum hiatus atau cuti. Panggung A Create Zone sudah dipenuhi oleh sejumlah penggemar setia The Brandals dari beberapa menit sebelum mereka tampil, demi menyaksikan momen sejarah band idola mereka. Seperti biasa, penampilan The Brandals yang atraktif membuat penonton juga sangat antusias. Momen menjadi sedikit emosional ketika di akhir penampilan, mereka berangkulan bersama seakan mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa kepada para penonton.

Hari ke dua ini memang terlihat lebih ramai daripada hari pertama. Salah satu yang terlihat jelas adalah keberadaan sejumlah remaja putri, atau bahkan lebih muda dari remaja yang memenuhi JCC hari itu. Pukul 20.30, salah satu penyanyi asal Australia, Cody Simpson dijadwalkan akan tampil di Plenary Hall. Para fans setia Cody yang menyebut diri mereka Simpsonizer rela menunggu penampilannya sejak siang hari, bahkan sebelum pintu festival dibuka. Terdengar teriakan dari para fansnya ketika pintu Plenary Hall dibuka, meski Cody pun belum berada di atas panggung. Bagaikan konser rock saja, penampilan Cody Simpson mengharuskan sejumlah remaja perempuan tumbang dan harus dikeluarkan dari area panggung.

Foto: Rasyid Baihaqi

Foto: Rasyid Baihaqi

Hari semakin malam, Pure Saturday melakukan penampilan mereka pukul 22.00 di panggung Demajors. Karena tampil di panggung yang penontonnya menikmati penampilan mereka sambil duduk manis, Pure Saturday terpaksa mengubah setlist mereka, membuang lagu dengan tempo keras, untuk menyesuaikan. Mereka pun bertanya kepada penonton untuk meminta lagu yang akan dimainkan. Pukul 23.45, salah satu penampilan yang juga ditunggu-tunggu malam itu, Tulus, tampil di Plenary hall. Tulus tampil dengan sangat interaktif dengan penontonnya. Ia menyapa penonton dan menjelaskan arti dari setiap lagunya, membuat penonton pun semakin antusias. Hari ke dua itu ditutup oleh penampilan Angsa & Srigala di panggung A Create Zone serta White Shoes and the Couples Company yang mengubah panggung Demajors dengan settingan duduk manis, membuat penonton berdiri dan bersemangat mendengarkan setiap lagu yang dibawakan.