Band psychedelic groove asal Bandung, Basajan, kembali memanaskan mesin kreativitasnya lewat single instrumental terbaru berjudul “Nadoman” yang dirilis pada 13 Februari lalu. Rilisan ini menjadi menarik bukan hanya karena musikalitasnya, tapi karena keberanian mereka menyentuh ranah sakral dalam budaya Sunda ke dalam medium musik rock eksperimental.

Secara harfiah, Nadoman adalah tradisi melantunkan bait pujian atau ajaran agama yang biasanya menggema di musala sebelum azan berkumandang. Di tangan Basajan, kesakralan itu tidak dibawa lewat vokal, melainkan diterjemahkan ke dalam pola repetisi instrumen. Jika didengarkan dengan saksama, struktur lagu ini memang terasa seperti zikir sonikal; berulang, menghanyutkan, namun tetap memiliki pondasi groove yang kuat.

Pendekatan yang mereka sebut sebagai Priangan Psychedelic Groove ini sebenarnya bukan barang baru bagi Basajan. Jika kita menengok ke belakang pada rilisan mereka seperti “1971”, Basajan memang konsisten bermain di area abu-abu antara eksplorasi bunyi dan identitas kedaerahan. Di “Nadoman”, mereka tampak lebih berani bermain dengan tekstur suara yang lebih lebar, seolah ingin menciptakan ruang bagi pendengar untuk berkontemplasi—sejalan dengan momentum perilisannya yang mendekati bulan Ramadan.

Namun, yang patut dicatat adalah bagaimana Basajan tetap menjaga batas agar tidak jatuh menjadi sekadar musik “etnik” tempelan. Penggunaan elemen psychedelic rock di sini berfungsi sebagai jembatan modernitas, membuat tradisi lama terasa relevan di telinga pendengar hari ini tanpa harus kehilangan akar estetikanya.

Proses teknis pengerjaan audio diserahkan kepada Panji Wisnu untuk urusan mixing dan mastering, sementara urusan distribusi digital berada di bawah naungan Bahasa Ibu Records. “Nadoman” kini sudah tersedia di berbagai layanan platform streaming digital dan menjadi pengantar yang pas bagi mereka yang mencari sisi reflektif dalam balutan musik yang tetap bisa membuat kepala mengangguk tipis.