Bagi banyak orang, usia 25 adalah gerbang “dunia yang sebenarnya”. Di titik inilah unit anthemic rock asal Jakarta, Bingar., mencoba memotret kegelisahan tersebut lewat single terbaru mereka, “Di 25 (Sebenar-benarnya Dunia Segera Tiba)”. Dirilis pada akhir Februari lalu (27/02), lagu ini menjadi jembatan pembuka menuju album penuh perdana mereka yang dijadwalkan meluncur tahun ini.
Sejak kemunculannya di akhir 2024, Bingar. memang konsisten membedah fase kehidupan pasca-kuliah. Namun, dalam “Di 25”, band yang digawangi Aji Bondji (vokal), Faishal Arif (drum), Fiqi Jacub, Iqbal (gitar), serta Indra Saputra (bass) ini terasa lebih personal. Lagu ini menangkap sebuah fase persinggahan; sebuah ruang antara sisa-sisa masa muda yang heroik dengan tuntutan realitas yang mulai mendingin.
Secara musikal, Bingar. masih setia pada jalur indie rock yang anthemic. Namun, ada pergeseran tempo yang menarik di sini. Jika rilisan sebelumnya seperti “Sarjana Lalu Lintas” terasa lebih meledak-ledak, “Di 25” justru dimainkan dengan sedikit lebih “tertahan”. Aransemennya memberikan ruang bagi lirik untuk bernapas, seolah memberikan waktu bagi pendengar untuk ikut bertanya pada diri sendiri: “Apakah semua yang sudah dilakukan ini benar?”
Kegelisahan ini semakin dipertegas lewat potongan lirik: “Mudaku dikejar masa / Sayang janjiku belum terasa“. Ada pengakuan jujur tentang kegagalan dan janji-janji masa muda yang belum lunas. Narasi ini diperkuat oleh visual artwork yang menggambarkan “Pertikaian Diri”—sebuah representasi tarik-menarik antara idealisme mimpi lama dengan tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan.
Bagi Bingar., usia 25 bukan sekadar angka, melainkan momen paling sunyi untuk bertarung dengan ego sendiri. Lewat trek ini, mereka berhasil memposisikan diri bukan hanya sebagai band yang berisik di panggung, tapi juga rekan kontemplasi bagi mereka yang sedang berkejaran dengan waktu menuju angka 30.