Di Jatinangor, mimpi paling masuk akal biasanya cuma dua: lulus tepat waktu, dan dapet kerja yang nggak bikin nangis tiap Senin. Tapi ada juga yang nekat bermimpi lebih liar—kayak manggung di Fuji Rock Festival, salah satu festival musik paling prestisius se-Asia. Dan itu beneran kejadian sama The Panturas.

Band surf rock asal FIKOM Unpad ini tengah menjalani tur Asia yang akan ditutup dengan penampilan di Fuji Rock Festival 2025—salah satu festival musik paling prestisius di Asia. Bukan cuma main di acara kampus, bukan cuma jadi line-up festival lokal, mereka sekarang bawain lagu-lagu—yang sebagian ditulis dalam bahasa Sunda—di hadapan penonton internasional, termasuk nanti di Naeba Ski Resort, Prefektur Niigata, Jepang.

Buat yang baru kenal The Panturas dari Spotify akhir-akhir ini, mungkin kabar ini terdengar kayak “ya wajar aja lah, band-nya udah keren.” Tapi buat yang pernah lihat mereka di panggung Fikom yang sound system-nya suka ngadat dan lighting seada-nya—momen ini rasanya kayak nyaksiin temen tongkrongan yang dulu tidur di kampus sekarang jadi headline koran nasional.

Dari Kosan ke Kapal Bajak Laut

Perjalanan The Panturas nggak instan. Mereka terbentuk di akhir 2015 dari obrolan beberapa mahasiswa Jurnalistik FIKOM Unpad—yang doyan musik surf rock, lagu-lagu 60-an, dan, mungkin yang paling penting, ide nekat buat bikin band yang nggak biasa. Dari panggung kecil di acara kampus, rilisan pertama mereka Mabuk Laut (2018) jadi paspor menuju festival-festival musik besar di Indonesia. Tapi bahkan setelah itu, mimpi manggung ke luar negeri masih terdengar kayak obrolan ngelantur di warung kopi.

Tiga tahun kemudian, mereka ngerilis Ombak Banyu Asmara (2021)—album kedua yang ngebawa The Panturas ke fase yang lebih dewasa, baik dari segi lirik, aransemen, maupun imajinasi. Kalau Mabuk Laut itu semacam perkenalan, Ombak Banyu Asmara adalah penegasan bahwa mereka bukan sekadar band nostalgia yang hobi main tremolo. Mereka makin peka, makin personal, tapi tetap dengan semangat nyeleneh yang nggak bisa ditebak.

Sampai akhirnya Galura Tropikalia lahir di November 2024. Sebuah EP berbahasa Sunda yang jadi titik balik dalam arah musik mereka—lebih eksperimental, lebih liar, dan lebih “sunda pisan”. Banyak yang bilang mereka lagi “nyari suara baru”, tapi sebenarnya ini lebih mirip ekspedisi: kayak pelaut yang bosan muter di dermaga, dan akhirnya berani nyebrang samudra.

Dan yang bikin momen ini makin berkesan: sesi dengar perdana Galura Tropikalia mereka adain di FIKOM (25/09/24), kampus tempat semuanya bermula. Bukannya pamer di venue mewah, mereka balik ke rumah sendiri—ngajak adik-adik angkatan buat ngerasain langsung karya terbaru mereka. Simpel, tapi simbolik: rumah tetap rumah, meskipun kapal mereka sekarang udah siap berlayar jauh.

Tur Asia, Rilisan Baru, dan Kapal Menuju Niigata

Peluncuran maxi-single Knights of Jahannam / Soma Gospel (11/07) jadi titik krusial dalam pelayaran panjang The Panturas. Dirilis lewat label mandiri mereka, Los Panturas Records, rilisan ini bukan cuma sajian dua lagu baru, tapi juga sinyal tegas bahwa mereka udah nggak main di perairan yang sama. Musiknya eksploratif: surf rock yang bergesekan dengan reggae 70-an, dibumbui tekstur Sunda, dan lirik berbahasa Inggris yang progresif sekaligus atmosferik.

“Kami pengen musik ini jadi laboratorium sonik, bukan sekadar kelanjutan dari album sebelumnya,” ujar Kuya kepada indonesiasenang.com.

Acin menambahkan bahwa dua lagu ini lahir dari pengalaman spiritual dan kekacauan kolektif pascapandemi—tema yang, kalau dipikir-pikir, cocok banget sama suasana dunia yang makin absurd belakangan ini.

Untuk mewujudkan visi sonik itu, mereka menggandeng musisi dan produser Ricky Surya Virgana, yang dikenal perfeksionis sekaligus eksperimental. “Kerja bareng Ricky tuh kayak les privat musik,” lanjut Kuya. “Kami ditantang main presisi, tapi tetap dikasih ruang buat berekspresi.”

Rilisan ini juga jadi bekal awal buat Tur Asia The Panturas 2025 yang dimulai sehari setelahnya. Mereka melaut ke enam kota besar:

12 Juli di Wire Entertainment, Singapura

13 Juli di Studio AB, Kuala Lumpur, Malaysia

18 Juli di Blueprint Warehouse, Bangkok, Thailand

19 Juli di Sari Sari, Manila, Filipina

20 Juli di Continue Music Studio, Taipei, Taiwan

– Terakhir, 26 Juli di Fuji Rock Festival, Niigata, Jepang

Di Jepang, mereka dijadwalkan tampil di Field of Heaven, salah satu panggung paling ikonik di kaki Gunung Naeba—tempat band legendaris seperti The Ska Flames dan Galactic juga unjuk gigi tahun ini. Dan di antara suara brass yang meledak-ledak dan groove funk yang mengguncang, semangat anak kosan dari Jatinangor juga ikut bersuara.

“Kami pengen karya ini nyebrangin batas negara, kayak tur kami,” kata Gogon, sang bassist.

Gila sih—dari panggung kampus beralas kain dan banner print digital kehujanan, sekarang satu flyer sama Vulfpeck, James Blake, sampai Vampire Weekend. The Panturas bukan cuma bawa musik Indonesia ke panggung internasional, tapi juga ngebuktiin kalau asal lo cukup nekat, konsisten, dan punya band yang solid, Jatinangor pun bisa jadi titik awal buat keliling dunia.

Dari Kampus ke Cosmos

The Panturas bukan band pertama Indonesia yang main di Fuji Rock—setahun sebelumnya, ada ALI, band funk dari Jakarta yang juga unjuk gigi di sana. Tapi Panturas bawa sesuatu yang lain: semangat bajak laut dari anak-anak kosan yang ngoprek musik sendiri, rekaman sendiri, bikin label sendiri (Los Panturas Records), dan nggak pernah benar-benar ngejual mimpi ke industri. Mereka bangun jalannya sendiri—dan entah gimana, jalan itu ternyata tembus ke Jepang.

Di akhir hari, cerita The Panturas bukan cuma soal manggung di luar negeri. Ini cerita tentang bagaimana mimpi yang absurd bisa jadi kenyataan, asal lo cukup nekat buat ngeluarin demo pertama dan cukup sabar buat ngadepin ampli kampus yang mendengung tiap manggung.

Dari Jatinangor, menuju Jepang. Dan siapa tahu, pelabuhan selanjutnya entah di mana.