ENDIKUP, album yang datang belakangan tapi bukan karena telat. Ia hadir seperti teman lama yang tiba-tiba nongol di tongkrongan, bawa kabar baik, lalu bilang, “eh, gue pamit ya.”

Ini persembahan terakhir dari Gusti Irwan Wibowo, atau yang akrab dikenal sebagai Gustiwiw—musisi yang kalau kamu belum pernah denger namanya, ya bisa jadi kamu kurang banyak nongkrong di tempat yang musiknya enak tapi nggak sok keren. Album ini bukan soal gimmick perpisahan. Ini warisan suara dari orang yang hidupnya penuh bunyi, tapi isi kepalanya nggak pernah bising. Optimisme di tengah kekacauan? Gusti nggak ngajak kita jadi motivator. Dia cuma ngajak kita bilang, “aaaaaaaaaahhh hari yang mantap.”

Jenaka, Absurd, Tapi Jujur

Lagu-lagu Gusti memang sering dibumbui komedi—entah lewat lirik absurd, judul nyeleneh, atau gaya bernyanyi yang kayak orang setengah bercanda. Tapi justru di situlah kejujurannya lahir.

Ambil contoh Icik Icik Bum Bum. Judulnya kayak nama minuman di warung remang-remang, tapi lagunya? Familiar, nempel di kepala, dan somehow bikin senyum sendiri:

Kalau mau mandi harus pake sarung… eh salah, harus pake sabun.

Icik icik bum bum, mari goyang-goyang…

Gusti berhasil bikin lagu anak-anak rasa dangdut koplo, dan tetap relatable buat yang udah gajian maupun belum.

Kalau mau ditarik ke belakang, musik Gustiwiw kayak anak gaulnya OM PMR—band lawas yang suka bikin lagu dengan judul-judul nyeleneh dan lirik jenaka, tapi selalu ada rasa sayangnya di balik kelakar. Bedanya, Gustiwiw main di era yang lebih absurd, jadi absurditasnya pun naik level. Dia kayak ngasih napas baru buat tradisi musisi jenaka yang nggak cuma lucu-lucuan, tapi juga cerdas dalam menyentil kenyataan.

Menertawakan Hidup Lewat Lagu 

Dibuka dengan Hari yang Mantap, album ini langsung terasa seperti ajakan: bangun, mari tertawa lagi. Lagu ini diisi oleh banyak suara yang saling bersahutan—kayak obrolan yang campur aduk antara kelakar, pertanyaan, dan pernyataan absurd. Sampai akhirnya liriknya ngulang terus:

Bersenda gurau dengan kelakar

Ku jamin kamu akan nyaman.

Repetitif, tapi justru jadi kayak mantra optimis buat hari-hari yang berat. Dan mungkin juga, semacam salam penuh tawa dari Gusti—sekali lagi, sebelum dia benar-benar pergi.

Gustiwiw nyeleneh, tapi bisa juga romantis. Di Diculik Cinta, dia nggak bikin lagu cinta yang mellow atau muluk-muluk. Malah dibuka dengan pertanyaan absurd:

Ada nenek sihir?

Kena guna-guna?

Atau nenek sihir kena guna-guna

Kalau jatuh cinta itu nggak masuk akal, Gusti beneran ambil harfiahnya. Tapi di balik kelakar, muncul pengakuan tulus:

Aku tenang karena kamu

Aku tenang melihat kamu.

Lagu ini kayak parodi sinetron yang dibawain di panggung puisi absurd 17-an—campuran Sapardi yang ngelantur dan Didi Kempot yang baru ngopi. Konyol, tapi dalem.

Lewat kolaborasi dengan Bilal Indrajaya di lagu Hilang Arah, atau dengan Danilla di Bagaimana? Gustiwiw menunjukkan kematangan artistiknya. Aransemen di dua lagu ini seolah menyatukan dunia Gusti yang jenaka dengan dunia Bilal dan Danilla yang lebih melankolis—elegan.

Gusti tetap jadi dirinya—jenaka, nyeleneh, kadang absurd—tapi dia tahu kapan harus memberi ruang. Musik mereka nggak saling menenggelamkan; justru terasa seperti dua warna yang saling melengkapi.

Dan akhirnya, ENDIKUP ditutup dengan Menunggu Ujung—lagu mellow yang tenang, kontemplatif, tapi diam-diam terasa paling jujur. Di menit akhir, terdengar hembusan napas panjang. Sunyi. Mungkin itu kode kecil dari Gustiwiw: bahwa ia sudah datang untuk menghibur, dan sekarang saatnya pamit. Tapi lagu-lagunya? Nggak akan ke mana-mana.

Di lagu ini, ia berhenti bercanda. Kalimat demi kalimat seperti bisikan dari ruang batin yang selama ini tertahan:

Sampai kapan lingkaran ini terjadi?

Terjebak di ruang pendaman emosi…

Ada letih yang pelan-pelan disampaikan. Ia bicara tentang konflik yang berulang, ketahanan yang diuji, dan harapan kecil yang masih tersisa:

oh mungkin sudah seharusnya ku jalani

dari sesuatu yang akan terjadi

berharap dewasa akan menemani…

Tidak ada ledakan dramatik, hanya pengakuan sederhana bahwa menjalani hari itu berat—terutama kalau hanya kita yang tahu rasanya. Tapi justru dari pengakuan itu, terdengar ketulusan paling dalam dari seorang Gusti.

Ia menutup albumnya bukan dengan perayaan, tapi kejujuran. Dan mungkin, itu justru bentuk optimisme paling jujur: menerima, meski belum tahu akhirnya di mana.

Satu Ruang untuk Dengerin Bareng 

Sesi dengar album ENDIKUP yang digelar di SMK Perguruan Cikini pada 3 Juli kemarin sebenarnya dirancang sendiri oleh Gusti. Rencana awalnya: konferensi pers, peluncuran meriah, mungkin ada MC, mungkin juga ada cemilan ringan. Tapi hidup kadang suka ngasih plot twist yang nggak lucu.

Gusti keburu pamit.

Tapi teman-temannya nggak tinggal diam. Kedubes Bekasi dan Maple Media tetap menjalankan niat itu, walau suasananya berubah jadi lebih intim dan penuh pelukan. Sekolah musik tempat Gusti dulu belajar jadi ruang duka yang hangat—karena justru di situlah kita benar-benar mendengar Gusti. Bukan cuma dari lagunya, tapi dari cerita-cerita yang dibagikan: oleh keluarga, oleh kolaborator seperti Danilla, Bilal Indrajaya, Nehru, Hifdzi, Bunga Nafisa, dan oleh teman-temannya sesama musisi yang hadir dari berbagai spektrum: Kabar Burung, Jebung, Endah N Rhesa, sampai Rangkai.

Rasanya kayak pulang. Tapi ke rumah yang penghuninya udah nggak ada, cuma ninggalin playlist.

ENDIKUP sendiri berisi sembilan lagu yang mewakili semangat hidup yang apa adanya:

  • Hari Yang Mantap
  • We Always Together
  • Icik Icik Bum Bum
  • Bagaimana?
  • Diculik Cinta
  • Ngambek
  • Lanjutkan Perjuangan Kita!
  • Hilang Arah
  • Menunggu Ujung

Di balik judul-judul jenaka dan gaya penyampaian yang kadang seperti lawakan anak tongkrongan, ENDIKUP sejatinya bukan album yang main-main. Ada semangat yang besar, nyaris meledak-ledak, yang pengen disampaikan Gusti lewat karya ini—semangat untuk tetap optimis meskipun kenyataan seringnya ngasih kita tagihan, deadline, dan berita-berita buruk yang muter tiap hari.

Buat Gusti, bangsa ini udah cukup dijejali ketakutan: takut miskin, takut gagal, takut dighosting. Tapi lewat ENDIKUP, dia ngajak kita buat ngomong, “udah ah, jangan tunduk.” Bukan dengan ceramah, tapi lewat kelakar, jogetan, dan irama yang ngasih ruang untuk senyum. Ini bukan optimisme ala motivator pagi-pagi di TV. Ini keberanian buat tetap ngelucu walau hidup nggak lucu-lucu amat. Keberanian buat tetap percaya kalau imajinasi dan kebudayaan bangsa ini—dari musik, bahasa, sampai tahu bulat—masih bisa jadi bahan harapan.

Makanya, buat Gusti, tiap hari itu mestinya hari yang mantap. Dan itu bukan cuma judul lagu pembuka, tapi juga sikap hidup yang dia tularkan ke kita semua. Aaaaaaaaaaahhh hari yang mantap.

Mulai 6 Juli 2025, kamu bisa dengerin ENDIKUP di semua platform musik yang enak di kuping. 

Warisan ENDIKUP yang Nyata

Gustiwiw bukan musisi yang datang dari mesin industri musik. Lahir di Bekasi, 28 November 1999, dia belajar musik sejak kecil dari ayahnya, Timur Priyono. Sejak itu, Gusti aktif berkarya sebagai penulis lagu, produser, arranger, sampai penghibur yang nggak pernah takut terlihat lucu. Baginya, musik adalah ruang pertemuan, bukan sekadar panggung.

Lewat genre ENDIKUP—singkatan dari Enak di Kuping, Gustiwiw menciptakan musik yang tak mau diberi label. Buat dia, yang penting musiknya jujur, menyenangkan, dan bisa nyambung ke siapa aja yang mau dengar. Tapi ENDIKUP bukan cuma nama genre yang asal lucu—ada sejarah dan ideologi yang ia teruskan.

Genre ini pertama kali digaungkan oleh ayahnya, Timur Priyono, di era 90-an. Seorang musisi yang juga menciptakan lagu legendaris Yang Penting Hepi, Timur melahirkan ENDIKUP sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi dan purisme musik dangdut saat itu. Kalau musikmu nggak memenuhi “pakem,” kamu dianggap bukan bagian dari yang sah. Maka, ENDIKUP hadir sebagai “wilayah netral”—tempat musik bisa bebas mengekspresikan diri tanpa harus tunduk pada definisi sempit.

“Kalau musik kita ada unsur dangdut tapi nggak dianggap ‘asli,’ langsung diprotes,” kata Om Yusak, adik dari Timur. Makanya di lagu Yang Penting Hepi, ada lirik penetralisir yang sengaja disisipkan:

Bergoyang walau bukan dangdut asli.

Gustiwiw mewarisi semangat itu, bukan hanya dalam musiknya, tapi juga cara dia membangun hubungan. Di luar studio, ia adalah sosok yang hangat dan gampang nyambung sama siapa aja. Bisa ngobrolin groove musik Afrika, lima menit kemudian bahas tahu bulat dan mantan. Nggak heran banyak musisi—dari yang indie sampai yang ‘main aman’—merasa nyaman kerja bareng dia. Gusti bisa bikin ruang yang penuh tawa tapi tetap produktif. Ketawa dulu, take vokal belakangan.

Di skena musik, Gusti bukan cuma “lucu-lucuan aja.” Dia kayak jembatan. Bisa nyambungin musisi folk sama band koplo, bisa bikin beat city pop tapi diisi lirik soal ojek online. Banyak yang bilang, Gusti itu kayak lem perekat ekosistem musik yang seringkali terpisah-pisah. Dia ngebuktiin kalau musikalitas dan selera humor bisa jalan bareng, tanpa harus saling ngalahin.

Waktu tampil di atas panggung, Gusti juga nggak pernah jadi “bintang” yang sok sentral. Dia lebih mirip MC acara 17-an yang tiba-tiba jadi penyanyi, trus entah gimana bikin semua orang nyanyi bareng. Tapi di balik semua kejenakaannya, ada kontrol musikal yang rapi dan terencana. Dia tahu kapan harus ngelucu, dan kapan harus bikin satu ruangan jadi hening karena larik lirik yang ngena.

Ketika ENDIKUP akhirnya dirilis, banyak yang langsung jatuh hati. Bukan cuma karena judul lagunya yang nyeleneh atau aransemen yang terdengar santai. Tapi dari balik canda dan groove yang goyang-able, tersembunyi kejeniusan musikal yang sulit dijelaskan—tapi gampang banget dirasakan. Banyak yang bilang: ini album enak di kuping dalam arti paling luas. Musiknya campur aduk: ada dangdut, bossanova, jazzy, pop, bahkan fusion. Aneh, tapi nyambung semua. Kok bisa?

Buat pendengar biasa, album ini memang terasa ringan dan seru. Tapi bagi yang lebih teknis, ENDIKUP memunculkan rasa penasaran. Banyak yang mulai ngulik chord-nya, dan di sanalah kejutan demi kejutan muncul. Ada yang menyebutnya penuh “jebakan”—perpindahan notasi yang nggak ketebak tapi tetap mulus. Ini bukan sekadar permainan insting; ada pola, ada perhitungan, tapi tetap terdengar alami.

Salah satu pendengar bahkan menyebut teknik ini sebagai jurus chord miring—cara licin untuk bikin lagu tetap dinamis tanpa bikin telinga kaget. Teknik ini sebenarnya juga dipakai musisi lain, tapi yang membedakan: Gustiwiw bikin semuanya terdengar effortless. Tanpa paksaan, tanpa tensi yang mendadak melonjak. Hasil akhirnya tetap sama: enak.

ENDIKUP mungkin awalnya bikin orang ketawa karena absurd-nya, tapi perlahan bikin terdiam karena jujurnya. Ia menyelinap pelan-pelan ke hati—tanpa harus banyak bicara. Tanpa drama. Dan di balik semua lapisan lelucon, ada karya yang benar-benar serius. Karya yang, kalau kata banyak orang: Cuma Gustiwiw yang bisa bikin serumit ini terasa segampang itu.

Setelah Gusti Pergi, Suaranya Masih Di Sini

Pada 15 Juni 2025, Gustiwiw berpulang di usia 25 tahun. Kepergiannya yang mendadak meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, teman, dan para pendengar yang pernah disentuh oleh karyanya. Tapi ENDIKUP, dan semua yang ia tinggalkan, membuktikan satu hal: musiknya masih hidup—dan akan terus bergema.

Terima kasih, Gusti.

Suara lo nggak akan ke mana-mana.

Dan tiap kita nyanyi,

Icik icik bum bum… 

lo masih bareng kita.