Apa yang lo inget dari masa remaja? Kenakalan? Kegelisahan? Atau cuma suara gitar berisik di kamar kos yang lo kira keren, padahal cuma feedback doang? Buat Kendrock, masa muda adalah labirin—penuh tawa, luka, eksperimen, dan kebingungan yang nggak selalu bisa dijelasin. Dari ruang-ruang jamming di kampus, mereka merangkum semuanya jadi satu EP bernama Delinquency.
Band asal Jakarta atau lebih tepatnya, dari rahim Institut Kesenian Jakarta (IKJ), kampus yang udah lama digadang-gadang sebagai tempat lahirnya para musisi dan band keren. Kendrock yang terbentuk pada 2023 ini baru aja ngelepas debut EP berjudul Delinquency. Dari namanya aja udah kebaca jelas arah temanya: kenakalan. Tapi bukan kenakalan versi sinetron jam 7 malam atau konten prank murahan di YouTube, melainkan keresahan dan pemberontakan khas anak muda, yang ditumpahin lewat musik psychedelic rock yang eksperimental, liar, dan jujur.
Secara musikal, Delinquency adalah percampuran rasa yang eksploratif dan penuh kejutan. Kendrock mencampur berbagai elemen dari psychedelic rock, heavy garage riffs, sentuhan mediterania, reggae, sampai nuansa Hindi rock dengan keberanian anak muda yang belum takut salah. Beberapa bagian juga dihiasi oleh layer synth dan elemen elektronik yang bikin suasana makin nge-float, tapi tetap grounded oleh distorsi yang garang.
Menariknya, mereka nggak cuma main di nada-nada modern. Di balik segala riuh fuzz dan delay, terselip juga melodi dan warna tradisional dari berbagai daerah. Nggak frontal, tapi cukup untuk ngasih nuansa “tanah sendiri” di tengah semesta psikedelik yang seringnya terasa tak berakar. Ini bukan sekadar bumbu eksotis—melainkan bentuk penghormatan terhadap akar-akar budaya yang numbuhin mereka sebagai musisi. Jadi semacam jembatan antara kekinian dan leluhur; antara yang liar dan yang membumi.
Awalnya mereka pengen main surf rock. Tapi seiring waktu dan mungkin kelelahan jadi “cerah-cerah pantai”, mereka sadar kalau semangat dan arah musik mereka ternyata lebih cocok di ranah yang lebih semrawut, lebih dinamis, dan lebih personal. Terinspirasi dari band asal Australia, Psychedelic Porn Crumpets, Kendrock pun tumbuh sebagai band yang nggak takut ngubek genre sesuka hati—asal jujur, asal liar.
Personelnya ada enam orang: Rama (gitar), Harish (vokal), Valen (drum), Opik (gitar), Tosa (bass), dan Arel (synth). Mereka pernah mampir ke FIKOM Unpad pas Jamming Bareng Vol. 2 (21/04/25), dan penampilan mereka sukses bikin barudak Unpad bengong, manggut-manggut, terus tepuk tangan rame. Gak ngerti ini efek distorsi atau mereka emang beneran keren. Tapi yang jelas, mereka ninggalin kesan.
Balik ke EP-nya. Delinquency ini isinya empat lagu: Through the Journey, Necis, Fiction Trip, dan Acid Embrace. Masing-masing punya warna sendiri, tapi tetap dalam benang merah yang sama: dunia remaja yang gelisah, penuh pelarian, dan sok tahu padahal sebenernya bingung. Ini keresahan eksistensial yang dibungkus dengan riff liar dan semangat meledak-ledak.
Kita mulai dari Through the Journey. Lagu ini bisa dibilang sisi paling muram dari Delinquency—sebuah kontemplasi dalam sunyi yang keruh. Kalau Necis adalah versi lo pas lagi ramai-ramai nongkrong dan sok pede, maka lagu ini seperti momen pulang sendiri, buka jaket, dan tiba-tiba mikir, “Lah, gue capek karena dunia atau capek karena diri sendiri ya?”
Dibuka dengan riff bass berdistorsi yang langsung menetapkan suasana, lalu disusul oleh lapisan synth, gitar delay, dan ketukan drum pelan yang terkesan jauh. Atmosfer gelap ini bikin lo ngerasa kayak lagi jalan kaki malam-malam, ngelewatin jalan kosong yang nggak asing, tapi juga nggak sepenuhnya akrab. Bass-nya tetap jadi fondasi sepanjang lagu, mengalun konstan kayak detak jantung yang terjaga di tengah gelap.
Vokal Harish di sini nggak lagi teriak-teriak atau ngegas. Nadanya pelan, nyaris kayak bisikan orang yang udah terlalu capek untuk marah, tapi masih pengen dimengerti. Menjelang tengah lagu, vokalnya mulai terdengar lebih semangat—kayak ada bara kecil yang tiba-tiba menyala. Lalu ada kejutan kecil: dentingan terompet masuk sebentar, memberi warna emosional yang hangat sekaligus absurd, seakan lo baru aja nyium bau bensin di tengah hujan.
I hate the noise of crowded streets
But loneliness, it haunts my dreams
Track 1: Through the Journey
Kendrock ngajak lo ngerasain dua kutub ekstrem: kebisingan yang bikin muak dan kesepian yang justru lebih nyakitin. Chorus-nya pun nggak kasih solusi, malah justru mempertegas konfliknya:
I hate the chaos, but I’m drawn to the void
I hate the struggle, but I fear being destroyed
Track 1: Through the Journey
Ini semacam perasaan stuck yang bikin lo terus jalan, tanpa tahu lo lagi lari dari sesuatu atau malah menuju kehampaan. Lagu ini cocok banget buat lo yang lagi nunggu hujan reda di dalam kosan, ditemani kopi instan, playlist Spotify, dan notifikasi yang sepi.
Through the Journey nunjukin kalau Kendrock nggak cuma bisa teriak soal keresahan sosial, tapi juga piawai ngulik sisi batin manusia yang compang-camping. Dan mereka lakuin itu tanpa pretensi. Gak lebay, gak nyari simpati. Cuma cerita, dari satu jiwa muda ke jiwa muda lain yang mungkin sama-sama lagi nyari tempat bernama “tenang”.
Berikutnya, Necis—dan ini kontras banget. Kalau Through the Journey bikin lo duduk termenung, Necis ngajak lo jingkrak sambil ngetawain gaya hidup palsu yang lo (mungkin) ikutin sendiri.
Dibuka dengan riff gitar yang nge-psychedelic, tebal dan nyeleneh, lagu ini langsung ngajak lo jalan petantang-petenteng, sok keren, padahal dalam hati lagi mikir saldo debit.
Jalan petantang petenteng
Berasa paling ganteng
Track 2: Necis
Kendrock langsung ngeledek gaya hidup ‘anak Jaksel’ yang tiap nongkrong harus matching, tiap story harus estetik, dan tiap post harus ada latte art. Ini lagu tentang tampilan yang kinclong tapi dompet kosong. Tentang mereka yang mabuk eksistensi digital, tapi lupa bayar cicilan.
Dompet tipis, saldo nol
Hidupku rock n roll
Track 2: Necis
Tapi ini bukan cuma lelucon, ini kritik sosial yang kena banget—karena lucu itu seringkali lebih pedih dari yang dramatis.
Secara musik, Necis adalah ledakan energi. Gitar yang tebal, drum yang ngebut, dan synth-synth yang muncul sesuka hati bikin lagu ini kayak pesta kecil di tengah ketidakpastian ekonomi. Lo bisa ngebayangin lagu ini dinyanyiin rame-rame di gigs kecil, sambil joget setengah sadar dan ngetawain hidup yang absurd.
Setelah ngetawain diri sendiri, Kendrock ngajak lo menyelam lebih dalam lewat Fiction Trip. Lagu ini terasa seperti mimpi aneh yang lo coba ingat pas bangun tidur, tapi cuma sisa rasa ngawang dan gambar kabur.
I found mushrooms on the mountain
and I also found a fountain
Track 3: Fiction Trip
Kita udah tahu: ini bukan tentang hiking biasa. Ini tentang perjalanan ke dalam kepala sendiri, entah karena psikedelik, insomnia, atau cuma overthinking jam 2 pagi. Lagu ini ngajak lo naik, melayang, lalu muter-muter di ruang penuh asap tipis dan tawa aneh.
Secara aransemen, ini lagu paling campur-campur—tapi justru di situlah asyiknya. Gitar awalnya catchy, lalu tiba-tiba masuk strumming reggae ringan yang bikin badan refleks goyang. Tapi abis itu langsung dihantam part rock yang bikin lo kayak naik-turun rollercoaster sambil nyengir.
Take me higher, take me higher…
Track 3: Fiction Trip
Dinyanyiin kayak mantra, tapi juga kayak ajakan iseng buat nyimeng (tapi kita pura-pura nggak tahu ya). Semakin diulang, semakin nggak jelas, tapi justru itu yang bikin ketagihan. Lagu ini rasanya kayak ditarik masuk ke dunia kaleidoskop yang absurd, penuh simbol dan mimpi, tapi tetap relatable buat lo yang pernah bengong di kasur tengah malam sambil ngeliatin plafon.
EP ini ditutup dengan Acid Embrace—dan penutup ini… cukup trippy. Lo bisa ngebayangin semacam pengalaman spiritual… atau mabok lem, tergantung sudut pandang.
Bagian awalnya berasa kayak lo lagi kebablasan masuk pasar malam di Timur Tengah, dengan melodi gitar dan synth yang atmosferik, penuh nuansa eksotis. Ini bukan cuma soal efek atau ambience, tapi juga karena gaya permainan gitarnya yang ngambil tangga nada khas daerah—sesuatu yang jarang ditemuin di musik rock kebanyakan.
Tapi kemudian, tiba-tiba semuanya beralih: ritme makin cepat, gitar mulai brutal, dan lo dilempar masuk ke ruang garage rock yang bising dan mentah. Transisinya kasar, tapi justru itu yang bikin nagih.
Instrumennya paling liar, paling nggak terduga, dan justru karena itu, jadi paling jujur. Efek-efek gitar berlayer, tempo yang loncat-loncat, dan groove yang nggak pernah stabil bikin lo merasa kayak lagi nyari arah di tengah badai cahaya.
Where colors bleed and twist
I wander through the corridors of mist
Oh, psychedelic journey, a cosmic flight
Where truths unfold in the depths of night
Track 4: Acid Embrance
Liriknya penuh visual surealis, kayak puisi LSD yang ditulis di balik boncengan motor. Ini bukan sekadar soal acid trip, tapi juga refleksi batin yang liar dan jujur. Lo bisa nangkep maknanya, bisa juga nggak—dan mungkin itu emang niatnya.
EP ini cocok banget buat lo yang suka ngerokok di balkon sambil dengerin King Gizzard & the Lizard Wizard, nulis jurnal tengah malam, atau nyender di kasur sambil mikir kenapa hidup rasanya absurd. Buat lo yang demen fuzz 70-an, synth glitchy, lirik surealis, atau sekadar pengin ngetawain keresahan sendiri—Delinquency bisa jadi teman pelarian yang cukup jujur. Dan anehnya, cukup akrab.
Dibuka oleh keresahan eksistensial di Through the Journey, diteriakin sambil joget lewat Necis, diseret masuk ke ruang limbo dalam Fiction Trip, lalu ditutup dengan melankolia dreamy di Acid Embrace—Delinquency terasa kayak satu episode dari masa muda yang absurd, penuh suara, dan seringnya gak tahu arah.
Meski sebagian besar aransemen dan riff-nya lahir dari jamming spontan, Kendrock tetap ngasih napas yang utuh di tiap lagu. Lirik-liriknya bukan cuma pelengkap, tapi semacam jendela kecil ke dalam kepala remaja: yang memberontak, mabuk, nyari makna, tapi juga gampang capek dan bingung sendiri. Mereka gak sok ngajarin, gak nyodorin moral—malah justru ngebuka ruang buat lo mikir, “Eh, kok ini gue banget?”
Kalau dari awal mereka bilang Delinquency adalah tentang kenakalan remaja dari sudut pandang remaja, maka EP ini berhasil nganterin lo ke sana. Bukan kenakalan versi orang tua, tapi yang mentah, liar, dan jujur: dari euforia pesta, absurditas halusinasi, sampai hampa setelah semuanya selesai.
Kendrock ngebuktiin kalau kebingungan pun bisa jadi karya—asal diceritain tanpa topeng. Dan di tengah banyak band yang sibuk kelihatan keren, kejujuran kayak gini rasanya justru yang paling necis.
Empat lagu. Dua puluh menit. Satu kekacauan yang terasa akrab—dan barangkali, perlu.Delinquency kini bisa didengarkan di platform musik digital, untuk lo yang masih nyari arah, atau cuma pengin tenggelam sebentar.