Ruh membuka rangkaian Balada Stimulan Saraf di akhir tahun, di momen ketika waktu terasa lebih longgar dan kepala malah makin ribut. Bukan karena ada yang terjadi, tapi karena terlalu banyak hal yang belum selesai dipikirkan.

Balada Stimulan Saraf bukan album penuh, melainkan rangkaian lima lagu yang dilepas bertahap. Setiap lagu hadir bukan sebagai pengalih distraksi atau pelarian cepat, tetapi seperti ajakan halus untuk berhenti sebentar. Duduk. Mendengar. Bertemu lagi dengan diri sendiri, meski tidak selalu dalam keadaan siap.

Di titik itu saya mulai bertanya, bukan soal bagaimana menghindari benturan, tapi apa yang sebenarnya kita lakukan setelahnya. Balada Stimulan Saraf tidak tertarik memberi jawaban. Ruh memilih membawa pendengarnya masuk ke ruang yang sunyi dan dingin, membiarkan rasa tidak nyaman tinggal lebih lama, tanpa segera dibereskan.

Band psikedelik asal Jatinangor yang beranggotakan Calvin di drum, Fattah di bass, Jul dan Maligi di gitar, serta Yoshi di vokal, melepas rangkaian berisi lima lagu yang dirilis satu per satu setiap tujuh hari. Materi pembuka dirilis pada 3 Desember 2025 dan ditutup tepat di penghujung tahun, 31 Desember 2025. Pola rilis yang pelan tetapi konsisten ini memberi ruang bagi setiap lagu untuk bernapas sebelum disusul lagu berikutnya.

Di balik itu, proses kreatif Balada Stimulan Saraf berjalan dengan minim perdebatan. Rangkaian ini terasa lebih sebagai ruang curhat dan self-warning dari masing-masing personel atas peristiwa-peristiwa yang datang tanpa permisi. Berproses bersama Ruh membuka emosi-emosi baru, baik secara kolektif maupun personal.

“Pada akhirnya, dalam posisi tertentu, kita bisa menemukan emosi lain dalam diri kita yang selama ini belum kita jamah,” ujar Fattah dalam sesi nongkrong (7/11). Kalimat itu rasanya cukup untuk merangkum arah rangkaian ini.

Ada satu perubahan penting yang langsung terasa. Untuk pertama kalinya, Ruh menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Pilihan ini bukan sekadar pemancing perhatian, melainkan upaya membuat pesan terasa lebih dekat. Pendengar diajak menyimak kontemplasi dan pengakuan diri tanpa perlu menerjemahkan ulang perasaan ke bahasa lain.

“Dari selesai rilis album pertama memang sudah ada rencana bikin materi pakai bahasa Indonesia. Waktu itu diingetin sama salah satu teman, kalau pakai bahasa Indonesia kemungkinan orang nangkep pesannya lebih besar,” kata Maligi soal proses penulisan lirik.

Dari sisi musikal, eksplorasi dalam rangkaian ini juga terasa lebih segar dalam katalog Ruh. Beberapa lagu banyak mengandalkan organ dan synth dengan dominasi kunci minor 7. Elemen ini disiasati sebagai penebal rasa, bukan sekadar hiasan. Seluruh proses penggarapan dilakukan secara mandiri, dari perekaman sampai mixing dan mastering. Bungkusan lo-fi dipilih bukan karena keterbatasan, melainkan sebagai kesepakatan bersama untuk menampilkan kesederhanaan dan kejujuran.

“Kita mau terus terang aja, ini loh yang Ruh punya,” tegas Maligi.

Eskalasi

Eskalasi dibuka tanpa gestur besar. Drum berjalan pelan, bass yang masuk hati-hati, seolah lagu ini sengaja tidak ingin langsung menarik siapa pun. Justru di situ pintu pertamanya. Lagu ini terasa seperti rambu, penanda bahwa sesuatu akan dimulai, tapi belum sepenuhnya siap dinamai.

Lirik “rasakan rasa gelap terasa” tidak terdengar sebagai keluhan, melainkan pengakuan. Ada lapisan rasa yang tertahan, lalu pelan-pelan tenggelam. Bukan kesedihan yang meledak, tapi kondisi ketika sunyi mulai membendung dari dalam. Eskalasi tidak memberi puncak, ia lebih seperti monumen kecil atas apa yang sudah dan belum terjadi. Sebuah pengingat, bahwa sebelum melangkah lebih jauh, ada hal-hal yang perlu dihadapi lebih dulu.

Menjelang akhir, synth bernada minor dan bunyi-bunyi ambient bermunculan. Emosinya naik turun, tidak stabil. Eskalasi terasa seperti ambang. Tidak sepenuhnya masuk, tapi juga tidak bisa mundur.

Di Ujung Tubuh, Yang Lupa Pulang

Judul lagu ini sudah terdengar seperti perjalanan yang terlalu panjang. Kalau Eskalasi adalah pintu masuk, lagu ini adalah fase ketika tubuh berhenti melangkah, sementara pikiran masih ingin berjalan.

Musiknya tenang dan menahan diri. Tidak ada letupan, tidak ada pelepasan. Semua dibiarkan menggantung. Lagu ini terasa bicara tentang negosiasi dengan waktu, tentang upaya pulang dengan hati yang masih utuh, meski kenyataannya tidak selalu memungkinkan. Ada sesuatu yang terus menarik tubuh untuk kembali, genggamannya erat, membuat langkah terasa berat.

Sepi di lagu ini bukan soal ditinggal, tapi soal terlalu lama bertahan. Hingga akhirnya pulang tidak lagi berarti membawa apa-apa, selain sisa cahaya kecil yang entah dari mana asalnya. Lagu ini tidak memberi resolusi, hanya kelelahan yang jujur.

Gundah Kausa Gulana

Begitu Gundah Kausa Gulana mulai, rasanya seperti masuk ke ruangan yang suhunya turun beberapa derajat. Riff gitar dan drum masuk hampir bersamaan, lalu vokal hadir seperti bisikan dari jarak dekat.

Di sini gundah tidak hadir sebagai kata besar, melainkan reaksi emosional atas kehilangan yang tidak selesai. Harapan yang tidak sempat disampaikan. Lirik “ketika malam tiba aku tak percaya” terdengar seperti kesaksian seseorang yang mendapati dirinya diam, gusar, dan tak berdaya. Semua upaya sudah dilakukan, tapi tidak ada yang benar-benar bekerja.

Bagian “siapa yang tahu, siapa yang mau masuk ke sana” terasa seperti undangan sekaligus peringatan. Lagu ini membawa pendengar masuk ke lapisan diri yang jarang disentuh, tempat sedih dan sesal akhirnya bertemu. Dari seluruh rangkaian, ini lagu yang paling dingin, dan mungkin paling berani menatap ke dalam.

Bau Pesing

Masuk ke Bau Pesing, suasananya langsung berubah. Bukan jadi lebih ramai, tetapi lebih asing. Bahasa yang terdengar seperti bahasa daerah, dan atmosfer yang pengap membuat lagu ini terasa seperti mimpi setengah sadar.

Di titik ini, Ruh berhenti mengajak bicara secara langsung. Lagu ini lebih terasa seperti pengalaman nyasar, masuk ke ruang yang tidak sepenuhnya dipahami, tapi tetap harus dilewati. Bau Pesing menjadi fase transisi. Tidak nyaman, agak menjauhkan, tapi penting untuk memutus alur sebelum sampai ke penutup.

Balada Stimulan Saraf

Sebagai penutup, Balada Stimulan Saraf tidak datang dengan gestur besar. Lapisan synth mendominasi dengan nuansa yang sekilas terdengar Timur Tengah. Vokal muncul samar, tertutup efek, kadang terdengar seperti bisik-bisik.

Lagu ini terasa seperti percakapan internal. Bukan ditujukan sepenuhnya untuk pendengar, melainkan antar mereka sendiri. Tidak ada kebutuhan untuk menjelaskan atau memperjelas. Justru dengan membiarkan sebagian lirik tenggelam, kejujuran itu terasa utuh. Seolah rangkaian ini ditutup bukan dengan kesimpulan, tapi dengan pengingat kecil untuk kembali sadar pada apa yang sedang dirasakan.

Di luar musik, Ruh juga melengkapi rangkaiannya dengan perjalanan visual yang dirilis secara serial di media sosial. Mereka menggandeng Kimi Raihan dari Rumah Produksi Kamar Kontrakan sebagai visual creative. Konsep fabric in motion and texture dengan tekstur kain bernuansa muted colour dipakai untuk menerjemahkan benturan peristiwa yang memicu stimulasi indera dan emosi. Suasana liminal spaces mempertebal rasa sepi, nelongso, dan keterasingan.

“Waktu awal dikasih denger materi-materinya, yang kebayang langsung liminal spaces. Soalnya yang muncul pertama kali ya perasaan sepi dan dingin,” ujar Kimi (23/10).

Rangkaian Balada Stimulan Saraf yang dibuka pada 3 Desember 2025 sudah dilepas bertahap setiap pekan sepanjang Desember dan visual untuk rangkaian ini sudah rampung. Dari semuanya, Gundah Kausa Gulana jadi lagu yang paling nempel buat saya. Mungkin karena datang di waktu yang pas. Lagi gundah, dan lagu ini tidak berusaha menenangkan.
Lewat lagu-lagunya, Balada Stimulan Saraf terasa seperti ajakan untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam, tanpa tujuan harus sampai kemana. Tidak ada solusi yang ditawarkan, tidak ada pegangan yang disodorkan. Yang ada justru ruang untuk mengakui perasaan yang selama ini disimpan, dilewati, atau sengaja diabaikan. Saya mendengarkannya bukan untuk merasa lebih baik, tapi untuk jujur pada kondisi sendiri, dan di titik itu, ketika musik tidak menggurui atau menenangkan secara instan, Balada Stimulan Saraf justru terasa paling dekat. Itu yang tertinggal di dalam diri saya setelah rangkaian ini selesai.