“Ini seriusan ngerokok di situ?” Atau mungkin, “ya wajar sih, judulnya juga Sebat Dulu.” Kurang lebih dua reaksi itu yang muncul pas potongan video klip “Sebat Dulu” dari The Jeblogs lewat di timeline X. Bukan karena adegannya ekstrem, tapi justru karena terlalu biasa—ngerokok. Bedanya, ini dilakukan di wahana kora-kora dan ditampilkan ke publik.
The Jeblogs merilis MV “Sebat Dulu” di akhir Maret 2026. Harusnya ini jadi momen biasa. Music video baru. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Timeline X penuh dengan reaksi, dan bukan soal musiknya.
Yang diperdebatkan justru visualnya: kenapa harus ngerokok di ruang publik? Beberapa akun langsung mempertanyakan hal itu. Ada yang bilang, ini cuma mikirin estetika tanpa peduli dampak. “Bara rokoknya bisa kena orang”, “asapnya ganggu”. Intinya, ini bukan lagi soal “rokok”, tapi soal etika di ruang bersama.
Menariknya, kritik itu nggak cuma datang dari sudut pandang moral sehari-hari, tapi juga dari orang yang punya latar belakang produksi visual. Mereka bilang, bahkan iklan rokok saja menghindari menampilkan aktivitas merokok secara eksplisit. Ada bahasa visual lain yang dipakai. Artinya, ada semacam standar yang sebenarnya sudah dipahami di industri.
Tapi ya, nggak semua orang melihatnya seperti itu. Ada juga yang santai. Argumennya simpel: judulnya “Sebat Dulu”. Ya wajar kalau ada adegan ngerokok. Secara kreatif, itu justru bagus.
Ada juga yang bawa diskusinya ke ranah yang lebih teoritis. Salah satu yang sempat muncul adalah pemikiran Bertolt Brecht. Bahwa seni yang baik bukan yang membuat penonton nyaman, tapi yang membuat mereka sadar. Maksudnya, kalau video klip ini berhasil bikin orang bereaksi, bahkan berdebat, berarti seni itu bekerja dengan baik.
Dari situ kelihatan, ini bukan sekadar pro-kontra biasa. Ini soal bagaimana orang membaca sebuah karya. Kalau ditarik sedikit lebih jauh, reaksi terhadap MV ini sebenarnya mencerminkan sesuatu yang lebih besar: cara ideologi moral bekerja di ruang publik. Di Indonesia, yang masih cukup kolektif, tindakan seperti merokok di ruang publik sering kali tidak dianggap sebagai urusan pribadi semata. Ada dimensi sosial di situ. Seperti kenyamanan orang lain dan etika bersama.
Jadi ketika adegan itu muncul di video klip dan kemudian disebarluaskan, orang tidak hanya melihatnya sebagai bagian dari cerita. Ada yang membaca itu sebagai bentuk legitimasi. Seolah-olah, “ini oke-oke saja”.
Di titik itu, opini mulai terbentuk. Ada yang lebih menekankan tanggung jawab sosial. Ada juga yang percaya bahwa seni harus bebas, selama masih nyambung secara konsep. Ketika dua cara pandang ini ketemu di satu ruang yang sama. Apalagi secepat timeline X, yang terjadi bukan diskusi panjang. Melainkan polarisasi.
Hal lain yang juga menarik adalah soal tanggung jawab kreator. Apakah kebebasan artistik berarti bebas sepenuhnya? Atau tetap ada batas yang perlu dipikirkan? Apalagi video klip seperti ini bisa diakses siapa saja, termasuk yang masih muda. Kekhawatiran soal “panutan” muncul, dan itu bukan tanpa alasan. Di era digital, sekali konten dilepas, dia langsung lepas dari kontrol pembuatnya.
Di sisi lain, kalau semua pembelaan langsung dianggap salah juga rasanya kurang adil. Seni memang tidak pernah steril dari kontroversi. Banyak karya justru jadi penting karena berani memancing reaksi. Tapi mungkin pertanyaannya bukan lagi “boleh atau tidak”, melainkan “ditampilkan di mana” dan “dibaca oleh siapa”.
Kalau dilihat dari situ, kasus “Sebat Dulu” ini jadi menarik. Karena yang kelihatan seperti keputusan kreatif kecil. Seperti satu adegan di satu wahana, ternyata punya resonansi yang cukup besar. The Jeblogs sebagai kreator tentu punya hak untuk mengekspresikan diri mereka. Bahkan bukan tidak mungkin, ini memang dimaksudkan sebagai sindiran terhadap kebiasaan merokok di ruang publik.
Tapi begitu visual itu dilepas ke internet, dia tidak lagi sepenuhnya milik mereka. Dia jadi milik publik. Dan publik tidak datang dengan satu cara pandang yang sama.
Argumen bahwa orang-orang di lokasi sudah di-brief mungkin benar dari sisi produksi. Tapi dari sisi publik, itu tidak banyak membantu. Karena yang dilihat penonton bukan proses di balik layar, tapi hasil akhirnya.
Dan hasil itu dibaca tanpa konteks. Di situ kelihatan jelas bagaimana ideologi moral bekerja sebagai filter. Apa yang dianggap biasa oleh satu orang, bisa dianggap bermasalah oleh orang lain. Di Indonesia, di mana kepentingan kolektif masih sering didahulukan, gesekan seperti ini hampir tidak terhindarkan.
Di situlah letak “miss”-nya. Bukan di teknis pengambilan gambar, tapi di cara membaca audiens. Lebih jauh lagi, ini seperti pengingat kecil buat skena musik, terutama yang independen. Sekarang jarak antara kreator dan publik hampir tidak ada. Rilis hari ini, direspons hari ini juga.
Tidak ada lagi waktu untuk “dipahami pelan-pelan”. Artinya, setiap keputusan visual sekarang bukan cuma soal estetika, tapi juga soal bagaimana ia akan dibaca. Bukan berarti harus selalu bermain aman. Tapi setidaknya ada kesadaran bahwa setiap pilihan punya konsekuensi.
Pada akhirnya, kontroversi MV “Sebat Dulu” ini tidak benar-benar tentang siapa yang salah. The Jeblogs punya hak untuk berkarya. Publik juga punya hak untuk mengkritik. Yang menarik justru bagaimana dua hal itu bertemu, dan sering kali tidak benar-benar saling mendengarkan.
Padahal, kalau dipikir-pikir, justru di situ nilai dari karya ini muncul. Seperti yang pernah dikatakan Bertolt Brecht, seni yang baik bukan yang membuat semua orang sepakat, tapi yang membuka percakapan.
Dan kalau satu adegan sederhana bisa memancing diskusi sepanjang ini, mungkin yang kita lihat bukan sekadar video klip. Tapi cara kita, sebagai publik, membaca dan bereaksi terhadap sebuah karya di era sekarang.