Perkembangan musik di Indonesia memang tak sesingkat yang kita kira. Beberapa dekade bahkan milenium baru telah menjadi saksi perjalanan musik yang berbagai macam jenisnya. Baik itu pengelompokan lewat genre musik atau proses distribusi album tersebut. Untuk genre musik mungkin kita bisa mengenal genre dari pop, melayu, mock, meroncong, atau pun jazz dan banyak lainnya sebagai penggambaran musik Indonesia. Namun, apabila kita membagi lewat pendistribusian musik, kita hanya mengenal dua jenis saja; major label atau independen.

Ghede Chokra's
cover dari album Ghede Chokra’s, dikerjakan oleh Choq dari majalah Aktuil

Apabila kita melihat perkembangan musik major label, mungkin kita bisa menyebutkan beberapa label rekaman yang terbilang cukup besar dari masa ke masa. Sebut saja label- label yang menaungi musisi besar semacam Irama Tara, Musica Studio, Sony Music, Aquarius, dan nama besar lainnya. Artisnya pun banyak menjadi buah bibir pemuda masa itu, hingga pada menjelang akhir dekade ’90-an munculah label- label independen yang menggebrak pasar musik Indonesia hingga saat ini seperti FFWD, Aksara, dan banyak lainnya yang kemudian menghasilkan istilah indie pada band- band yang mereka rilis.

Pasar Baru, Bandung, 1970. Mungkin tahun dan tempat tersebut adalah latar yang paling bersejarah dalam skena musik di Indonesia. pada waktu dan tempat itulah seorang juragan tekstil sukses keturunan India bernama Bhagu Ramchand (vokal) dipertemukan dengan empat orang mahasiswa penyuka musik sama sepertinya. Mereka antara lain Benny Soebardja (gitar, vokal), Soman Loebis (keyboard, vokal), Janto Diablo (bass, flute), dan Sammy Zakaria (drum) yang kemudian menghasilkan sebuah gebrakan berupa kolektif band yang dinamai Shark Move.

Pada tahun itu juga, Shark Move mulai bergerak secepat hiu yang menjadi semiotik yang mereka miliki. Produktivitas mereka bergerak dengan cepat layaknya hiu yang mengendus aroma darah mangsanya. Hal ini berkebalikan dengan aliran yang mereka usung yakni psychedelic/progressive rock yang cenderung berdurasi lama dan lamban. Dalam dekade tersebut musisi yang mengusung genre tersebut memang terbilang sedikit sehingga Shark Move cukup nyentrik di blantika musik Indonesia.

Atas idealisme dari Benny, Shark Move kemudian memilih jalur independen dalam musik mereka. Invasi british music yang sedang melanda Indonesia di dekade 60 hingga 70-an membuat para produser industri major label cenderung mengekang kreativitas musisinya agar senantiasa menciptakan lagu cengeng. Atas modal yang diberikan oleh Bhagu Ramchand selaku vokalis dari band tersebut, mereka kemudian menciptakan label pendistribusian untuk album pertama sekaligus terakhir bagi mereka Ghede Chokra’s yang berarti Great Session dalam bahasa Inggris.

Album yang direkam di Musica Sudio’s ini menjadi fenomenal pada masa itu. Lewat lagu “My Life” yang terkesan mirip dengan tembang “July Morning”-nya Uriah Heep menjadi hits berkat durasinya yang cukup lama yakni sekitar 9 menit lebih. Nuansa psychedelic ala King Crimsons atau pun Beatles terlihat sangat mencolok dari Shark Move kala itu. Bahkan, dari segi artwork, gaya psychedelic diperlihatkan secara gamblang lewat campuran warna biru tosca, hijau, dan warna mencolok lainnya serta obyek yang benar- benar surealis : Kelima personel sedang menunggang paus dan mengambil ancang- ancang untuk menyerang monster kalajengking raksasa.

Dengan menjadi sidestream di tengah- tengah pasar musik kala itu, musik dari Shark Move pun laris manis di pasaran. Piringan hitam yang diilis secara kolektif lewat label Shark Move Records dengan jumlah 1000 buah ludes di pasaran. Begitu pun rilisan dalam bentuk kaset yang dikabarkan telah menembus pasar musik Asia. Berkat ‘keajaiban’ yang disuguhkan Shark Move, band yang dimotori oleh Benny Soebardja ini pun berhasil memasuki daftar 150 Album Terbaik Sepanjang Masa yang dibuat oleh majalah musik Rolling Stone pada tahun 2007.

Meski memiliki karier yang gemilang, umur  band ini bisa dibilang pendek. Setelah merilis album Ghede Chokra’s yang begitu fenomenal, band ini terpaksa bubar karena setiap personel memilih untuk berkarir di band lain. Sebut saja Soman yang lebih memilih karier di super rock group God Bless, juga Benny dan Sammy yang kemudian membentuk band baru bernama Giant Step bersama sangwonder guy’ Deddy Dorres.

Setelah beberapa dekade berlalu, album Ghede Chokra’s ini tidak pernah kehilangan kharismanya. Pada tahun 2003, sebuah label rekaman asal Jerman, Shadok Records merilis kembali album tersebut dalam format LP yang eksklusif. Namun, kualitas suara yang dihasilkan kurang baik hingga akhirnya pada 2014 Ghede Chokra’s dirilis kembali oleh Rockpod Records yang tidak lain adalah label rekaman milik Rama Nalendra, anak kandung Benny. Meski pun zaman telah berubah, musik dari Shark Move tak pernah terlupakan. Ya, sesuai dengan namanya, Ghede Chokra’s: sebuah sesi besar yang menjadi saksi bisu perjalanan musik di Indonesia.