Sebuah Fase Baru dari Bandung yang berisik namun lembut, Grup shoegaze/alternatif dari Bandung, ASHN, akhirnya merilis album perdana mereka, “Waves In Two”, pada 3 Oktober 2025. Album ini merupakan momen penting setelah beberapa tahun mereka berproses dengan beragam penulisan demo dan single eksperimental. Lima anggota—Bryan Arkan (gitar, produser), Nafisa Almira (vokal), Bryan “Popon” Pongtiku (vokal/gitar), Rafi Azani (bass), dan Irfan Al Hafizh (drum) menyatukan visi musik yang berakar pada kejujuran emosional dan eksplorasi atmosfer yang khas ala mereka: melankolis namun berani untuk bereksperimen.

Gue pribadi jatuh cinta sama Waves in Two karena pengalaman yang gue rasain terasa beda banget dibandingkan rilisan-rilisan baru lainnya di tahun ini. Bagi Gue album ini punya cara tersendiri buat ngajak pendengarnya tenggelam bukan sekadar lewat distorsi atau efek gitar, tapi lewat atmosfer yang benar-benar jujur dan mendalam. Dari lagu ke lagu, gue ngerasa kayak diajak menyelami perasaan kosong yang anehnya justru bisa dinikmati.

Ditambah momen yang paling berkesan adalah ketika gue sempet dengerin langsung album ini bareng personil-personil ASHN di sesi listening session mereka di Downtown Market, Bandung. Di situ gue baru sadar, album ini bukan cuma soal suara, tapi soal pengalaman emosional yang dibangun bareng antara band dan pendengarnya. Dan mungkin itu yang bikin Waves in Two terasa istimewa karena ia tidak sekadar terdengar, tapi juga terasa.

Waves in Two menyajikan sepuluh lagu yang mengeksplorasi berbagai emosi seperti kesedihan, cinta, keterasingan, hingga euforia kecil tentang perpisahan dua orang sahabat. Semua lagu disusun dalam narasi suara yang menyatu dengan lapisan gitar yang tebal, vokal yang melayang, dan tekstur ambient yang saling berinteraksi seperti mimpi yang belum selesai.

Berbagai elemen penting dalam album ini di tulis dan di produksi di bawah arahan Bryan Arkan sedangkan, Irfan Al Hafizh, Naufal Ikhsan didukung oleh Priscilla, Popon, Nafisa, dan Rafi berperan dalam menangani mixing dan mastering serta penulisan lagu. ASHN juga bekerja sama dengan beberapa kolaborator untuk elemen visual seperti Fakhrezy Kim yang membuat artwork, Dzikirie J. Arethusa dalam mendesain logo, dan Rio Algifari membantu fotografi pers. Semua bagian ini menegaskan bahwa Waves in Two lebih dari sekadar album, melainkan sebuah pernyataan artistik yang utuh dari sebuah band yang baru saja mengemukakan suaranya dan identitasnya.

Album ini Terinspirasi dari pengalaman pribadi dan suasana dari video game ‘Silent Hill’, album ini menggabungkan kehangatan melankolis dengan nuansa dingin dan sunyi yang mencekam. Hasilnya adalah lanskap suara yang luas namun intim gelap namun tetap terasa autentik seperti salah satu judul lagu mereka “waves in two” yang di pilih sebagai judul album perdana mereka.

Tiga Gelombang yang Paling Menggugah Kuping Gue “Farewell”, “Serene”, dan “In Circles”

“Farewell” 

lagu ini terisnpirasi dari sahabat Bryan Arkan yaitu Arky mantan personil ASHN, sebagai lagu pembuka album, “Farewell” langsung menyampaikan kejujuran yang tulus. Dentuman drum yang keras dipadu dengan vokal Nafisa yang hampir seperti bisikan menciptakan ruang hening bagai dua yang sahabat berada di ambang perpisahan. Lagu ini bukan sekadar tentang perasaan kehilangan, tetapi tentang bentuk kasih yang murni, belajar melepas tanpa rasa sakit, “Farewell” berhasil membuka album dengan rasa tenang dan teduh. 

“Serene” 

ketenangan yang hadir setelah kekacauan

“Serene” menjadi tempat bersantai di tengah badai distorsi yang mengisi album. ASHN menunjukkan kepiawaian mereka dalam menjaga dinamika: lagu ini tidak terburu-buru, tetapi tetap bergerak pada jalurnya. Iringan drum Irfan yang lambat berpadu harmoni dengan gitar berlapis lembut, seperti menciptakan ruang untuk refleksi.

Yang menarik,” Transisi antara bagian-bagian lagu dalam album ini sangat halus, bahkan hampir seperti tidak ada jeda sehingga lagu ini terasa seperti meditasi dalam gaya shoegaze, terutama transisi dari “Serene” ke “In Circles” .

 “In Circles” 

Pola yang berulang, dan manusia yang tak pernah benar-benar berubah

“In Circles” adalah salah satu lagu dengan konsep yang sangat kuat. Ditulis bersama Naufal Ikhsan, lagu ini menggambarkan perilaku manusia yang terperangkap dalam siklus keputusan dan emosi yang berulang “For now it seems the world is out of reach, i can’t, and everyday is always all the same”. Dalam hal aransemen, “In Circles” memiliki pola gitar yang berulang yang mengalun, menciptakan perasaan hipnosis yang perlahan-lahan menyerap pendengar.

Salah satu aspek yang paling mencolok lagi dan lagi bagi gue adalah peralihan mulus dari “Serene” ke lagu ini nyaris tanpa jeda, seakan ASHN berusaha menunjukkan bahwa ketenangan dan kebiasaan yang merugikan seringkali berasal dari tempat yang serupa.

Waves in Two adalah sebuah bukti nyata dari keberanian ASHN untuk menampilkan aspek pribadi mereka dengan sebuah cerminan dari kedalaman perasaan dan perjalanan yang terus berevolusi. Karya ini tidak hanya berfungsi sebagai pembuka bagi pendengar yang baru, tetapi juga memperkuat posisi ASHN dalam dunia musik independen di Indonesia.

Tiga lagu tadi bagi gue menjadi cerminan sisi terdalam dari ASHN. Farewell yang tulus, Serene yang reflektif, dan In Circles yang merenungkan. Mereka tidak hanya memainkan efek gitar, tetapi juga menyusun keheningan sebagai bagian dari komposisi.

Untuk gue, di antara riuhnya suara dan keheningan yang mereka bentuk, ASHN menemukan kejujuran dalam bermusik. Waves in Two bukan cuma sekadar debut album dari band yang bahkan baru gue ulik ini. Tapi semua ini adalah pengalaman mendengarkan yang meninggalkan jejak emosional. ASHN berhasil membuktikan bahwa shoegaze nggak harus selalu terdengar berat atau melankolis berlebihan kadang ia bisa hadir dengan bentuk yang lembut, jujur, dan membangun kedekatan emosional tanpa banyak bicara.

Dan mungkin, itu yang bikin Waves in Two tetap terngiang lama setelah lagu terakhirnya diputar.

Waves in Two” sudah rilis pada tanggal 3 Oktober ini dan tentu nya bisa kalian dengarkan dan nikmati di platform digital musik favorit kalian.