Tahun ini merupakan kali kedua penyanyi asal Manchester, Inggris, Steven Patrick Morrissey datang ke Indonesia. Membawakan 19 lagu, pria yang kerap disapa ‘Moz’ ini mampu menyihir ‘jemaah’-nya untuk ikut bernyanyi bersama, riang gembira, meski berujung pada kekecewaan bagi sebagian penonton.

Menjelang Rabu malam (12/10), lapangan eks- Golf Driving Range, Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan dipenuhi lautan manusia. Di antara meriahnya lampu kota, terlihat sebuah panggung dengan ketinggian sekitar 7 meter dan lebar 10 meter yang seolah hendak menyaingi tinggi gedung pencakar langit. Di atas panggung tersebut, terpampang tiga layar proyektor yang secara berurutan menampilkan potongan film secara bersamaan; Video klip Sex Pistols, Penampilan dari Tina Turner, Video Klip The Ramones, serta film pendek karya Andy Warhol yang berjudul “Flesh” yang diputar selama 30 menit.

Hampir setengah jam berlalu, montase pun berakhir dan orang yang paling ditunggu pun akhirnya muncul. Mengenakan kemeja flamboyan berwarna biru muda, Morrissey pun lantas menyapa penonton seraya berteriak “My heart, my heart, Jakarta,” yang kemudian disambut dengan antusiasme penonton yang tak sabar menanti penampilan dari pria berusia 57 tahun tersebut.

Di awal penampilan, pria yang kerap disapa ‘Moz’ tersebut menampilkan beberapa lagu yang menjadi debut di awal karier solonya seperti “Suedehead”, “Alma Matters”, serta “Everyday Is Sunday”. Ketiga lagu tersebut lantas disambut dengan baik oleh penonton yang datang dari berbagai kalangan. Baik mahasiswa maupun pekerja kantoran, semuanya ikut bernyanyi sehingga menciptakan suasana yang syahdu sepanjang awal penampilannya.

Menjelang lagu keempat, Moz lantas menyanyikan salah satu lagu yang menjadi andalan di album barunya yang bertajuk “Kiss Me A Lot”. Tempo yang cepat dari lagu tersebut membuat mantan vokalis dari grup britpop legendaris The Smiths itu menjadi semakin lincah. Bahkan, pada penghujung lagu tersebut sang Moz pun merobek kemejanya sendiri –salah satu ritual yang pasti dilakukan dalam setiap penampilan panggungnya.

Setelah berdansa penuh pada lagu tersebut, Morrissey lantas mengganti baju dan mengisi oksigen –Morrissey menderita kanker selama dua tahun terakhir. Penampilan pun dilanjut dengan lagu berbahasa Spanyol bertajuk “Speedway” yang dibawakan oleh Gustavo Manzur, penyanyi latar Morrissey sekaligus musisi spesialis mariachi yang cukup terkenal di negara asalnya, Kolombia.

Penampilan Morrissey pun kembali berlanjut setelah ia mengganti bajunya dengan kemeja berwarna merah hati. Pada sesi selanjutnya, nomor- nomor klasik pun ia tampilkan kembali. “Ouija Board, Ouija Board” dan “Let Me Kiss You” pun dinyanyikan. Lucunya, sebelum “Let Me Kiss You” dinyanyikan oleh pria kelahiran tahun 1959 ini, dengan gaya yang eksentrik ia pun mengeluarkan gesper dan memainkannya seraya berkata; “Where are you going now? Please, don’t leave me, stay with me, or I will whip you.” Perkataan ini sontak mengundang tawa para penonton yang sebelumnya kehabisan energi karena terlalu bersemangat.

Bukan Morrissey apabila tak pandai menyindir. Pada nomor selanjutnya, Moz lantas berteriak dengan lantang, “Do you like Donald Trump?”  Sontak para penonton pun membalasnya dengan teriakan “No!” yang dilanjut dengan pernyataan dari Morrissey sendiri; “That’s fine, but did you know that World Peace is None of Your Bussiness?” yang merujuk pada lagu pembuka di album barunya yang bertajuk World Peace is None of Your Bussiness yang dirilis 2014 lalu.

Selanjutnya, nomor- nomor klasik pun kembali dilanjutkan. Lewat “I’m Throwing My Arms Into Paris”, “You’re The One for Me, Fatty”, serta “Jack The Ripper”, Moz kembali menyihir penonton untuk melakukan sing along. Selain itu, Moz juga tak lupa membawakan cover dari lagu milik grup punk asal Inggris, The Ramones yang berjudul “Judy is A Punk”. Meski demikian, suasana di Jakarta justru terlihat berbeda dengan penampilannya di beberapa kota sebelumnya yang terlihat sangat antusias saat lagu ini dibawakan.

Mendekati akhir pertunjukan, Morrissey pun kembali beraksi dengan proyektornya. Kali ini, proyektor tersebut menampilkan tindak kekerasan yang dilakukan oleh pihak kepolisian di berbagai negara. Penonton pun terhenyak sesaat hingga kemudian penampilan dilanjutkan dengan nomor “Ganglord” yang merupakan bagian dari single The Youngest Was The Most Loved.

Setelah “Ganglord” yang murung dimainkan, emosi penonton justru dinaikkan kembali. Kali ini, penonton diajak untuk bernyanyi bersama lewat lagu “The First of The Gang To Die” yang dikemas dalam bentuk mariachi. Gubahan gitar Spanyol bertempo cepat yang dipadukan dengan tempo lagu ini yang menghentak- hentak membuat suasana semakin riuh menjelang malam hari.

Nuansa musik Latin yang menjadi ciri khas dari World Peace is None ofYour Bussiness pun kembali ditampilkan. Sebelum tampil lebih jauh, Morrissey pun terlebih dahulu berorasi; “There was a pain in Spain,” tuturnya. Perkataan tersebut merupakan sikap Morrissey terhadap pertunjukan matador di negara- negara Latin. Sikap politisnya tersebut dituangkannya ke dalam lagu berjudul “The Bullfighter Dies” yang kemudian dilanjutkan dengan lagu “The World is Full of Crashing Bores” yang diambil dari album You Are The Quarry.

Ketika hari semakin malam, Morrissey pun kembali mengajak penonton untuk berdansa bersama lewat lagu “You Have Killed Me” yang sukses dibawakan. Menjelang akhir dari konser tersebut, kali ini ia pun membawakan dua lagu dari The Smiths yakni “How Soon is Now?” dan “Meat Is Murder” yang rupanya telah ditunggu- tunggu penonton dalam penampilannya kali ini.

Meski ditunggu- tunggu, konser pun berakhir dalam keheningan. Saat penampilannya di lagu “Meat is Murder”, Morrissey pun mempertontonkan video yang seolah hendak menyampaikan; betapa tidak manusianya manusia yang memakan daging. Dalam video tersebut terlihat berbagai macam penyembelihan yang dilakukan oleh manusia. Lagu ini lantas diahiri dengan sebuah tulisan yang terpampang di layar proyektor; “Apa lagi alasan kalian? Daging adalah Pembunuhan”. Sontak penonton pun terdiam selama beberapa saat hingga tak sadar bahwa Morrissey dan krunya telah meninggalkan panggung.

Pada awalnya, kepergian Morrissey ini tak digubris oleh penonton hingga para kru pun berkata kepada sebagian penonton; “pertunjukannya sudah habis.” Penonton yang tidak percaya lantas berdiam diri di venue selama hampir 15 menit. Keadaan ini terus berlanjut hingga akhirnya area VIP yang sejak awal terlihat kosong, kini menjadi semakin kosong; Pertunjukan megah ini berakhir penuh teka- teki.

foto dokumentasi kiosplay